Film pendek Indonesia

Tiga Film Pendek Indonesia akan tayang perdana di Europe on Screen 2021

172

Tiga film pendek Indonesia akan tayang perdana di Festival Film Uni Eropa ke-21 “Europe on Screen” (EoS). Ketiga film pendek Indonesia ini merupakan pemenang ajang kompetisi EoS Short Film Pitching Project (SFPP) 2020. Para pemenang mendapatkan dana parsial dari EOS serta fasilitas pasca produksi dari SAE Indonesia.

Ketiga film pendek Indonesia yang akan ditayangkan adalah:

  1. Ghulam, karya sutradara Nashiru Setiawan asal Malang
  2. Tour de Serpong, karya sutradara Steven Vicky S. asal Tangerang
  3. Kepada Istriku (Marta, I’m Home), karya sutradara Patrick Warmanda asal Jakarta

Kompilasi ketiga film pendek tersebut dapat disaksikan gratis mulai hari ini pukul 14.00 WIB melalui Festival Scope.

“Tiap film pemenang SFPP 2020 membawakan cerita dan isu yang beragam serta unik,” ujar Nauval Yazid, festival co-director EoS 2021. “Tidak berhenti disitu, pengemasan serta perspektif segar yang ada di setiap film pendek ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi setiap pembuat filmnya,” tambahnya.

“Kami sadar bahwa festival film adalah sarana dan wadah kreatif serta edukatif bagi para pembuat film muda Indonesia,” kata Meninaputri Wismurti, festival co-director EoS 2021. “Untuk itu, penting bagi kami untuk mendukung ekosistem perfilman serta mendukung para pembuat film agar kelak dapat bersanding dalam kancah internasional,” tambahnya.

EOS SFPP telah berlangsung sejak tahun 2018 dan didukung sepenuhnya oleh Uni Eropa, SAE Indonesia dan Kemala Home Living.

film pendek indonesia ghulam

Ghulam, film pendek komedi berdurasi 17 menit asal Malang sekaligus pemenang pertama ajang SFPP 2020 bercerita tentang kisah Ghulam dan Kecap yang mengadakan pemutaran film secara layar tancap di tengah ancaman dan teror dari oknum setempat yang menganggap film yang mereka putar mengandung unsur pornografi. Nashiru Setiawan, sutradara film Ghulam, menjelaskan bahwa isu hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, serta situasi dan kondisi ruang-ruang seni alternatif dalam kesenian di Indonesia kerap mendapatkan persekusi dari kelompok tertentu dan merupakan isu penting yang jarang diangkat melalui medium film.

Baca Juga:  Jalin Kerja Sama dengan IndiHome, Starz Luncurkan Aplikasi Lionsgate Play

“Isu yang dekat dengan kehidupan saya, merantau saat kuliah tanpa mempertimbangkan tantangan masa depan sambil tetap bermimpi besar untuk dibuktikan ke orang tua menjadi alasan untuk membuat film ini,” jelas Steven Vicky S., sutradara film Tour de Serpong, pemenang kedua SFPP 2020. Film pendek ini bercerita tentang Anton yang kabur dari rumahnya demi kuliah di Paris. Alih-alih mencapai cita-cita, ia ditipu oleh agen beasiswa dan berakhir di Serpong dimana ia bertemu tukang kopi keliling yang membantunya mencari Paris.

Drama menggugah haru disajikan secara apik oleh juara ketiga SFPP 2020, Patrick Warmanda, dalam film Kepada Istriku (Marta, I’m Home). Penonton akan diajak selama 20 menit untuk melihat kisah Yohan, yang menyimpan peti mati di kamarnya setelah ditinggal mati oleh sang istri, sehingga membuat anak-anaknya bingung. “Saya merasa isu yang ada dalam film ini, mengenai keluarga, kegelisahan dan perasaan yang dipendam serta emosi yang kadang kita tahan tanpa tahu batas diri kita bisa sampai sejauh apa, dekat dengan kehidupan sehari-hari kita semua,” kata Patrick Warmanda.

Ada berbagai tantangan yang dihadapi oleh ketiga pembuat film beserta serta tim produksi. Salah satu tantangan tersebut adalah menyesuaikan proses syuting dengan protokol kesehatan dan regulasi selama pandemi. Tantangan lain adalah tenggat waktu yang diberikan agar film rampung tepat waktu. “Syuting dilakukan di dua lokasi dalam waktu tiga hari. Mulai dari tahap pengembangan cerita hingga pasca produksi serta pengeluaran tambahan untuk menjalani protokol kesehatan selama proses produksi. Semua berlangsung dalam waktu singkat,” jelas Patrick Warmanda. Jeremy Randolph, produser film Tour de Serpong, memperoleh pengalaman mirip. Ia menjelaskan bahwa cuaca serta lokasi eksterior juga menjadi tantangan dalam pembuatan film ini, mengingat lokasi syuting kebanyakan dilakukan di luar ruangan. Akibatnya, banyak pihak ketiga turut terlibat dalam produksinya namun dengan adanya dana suntikan serta nama Europe on Screen sebagai sponsor film, memudahkan proses negosiasi dengan pihak ketiga.

Baca Juga:  Pecahkan Rekor, Squid Game Berhasil Menjadi Original Series Terlaris Neflix

“Perijinan waktu, penggunaan lokasi shooting dan prosedur karantina untuk calon pemain film mempengaruhi proses penulisan naskah film Ghulam,” ujar Arfan Adhi, produser film Ghulam. “Proses syuting ini turut dibantu oleh pihak lain seperti rekan-rekan kolektif film sekitaran Malang Raya yang mendukung alat serta SDM produksi film, rekan dari Surabaya yang datang berkunjung dan spontan membantu tim artistik, serta relawan siaga bencana Maharesigana Universitas Muhammadiyah Malang untuk melakukan cek kesehatan kru dan pemain selama hari syuting berlangsung,” tambahnya.

Tahun ini, EoS kembali menggelar ajang SFPP ke-4. Delapan finalis terpilih akan mempresentasikan ide filmnya di hadapan ketiga juri yaitu Edwin NazirKamila Andini dan Yosep Anggi Noen. Sesi presentasi akan digelar tanggal 24 September pukul 09.00 WIB dan terbuka untuk publik.

Untuk informasi serta jadwal lengkap, silahkan mengunjungi situs: www.europeonscreen.org