The Social Network: Sinopsis Film dan Ulasan

373

Tanpa perlu ragu-ragu lagi, rasanya tidak berlebihan jika The Social Network (TSN) sekarang didapuk sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Dan, harus diakui rasanya lewat karya penyutradaraan nya di sini, sekali lagi David Fincher layak diberi angkatan topi karena telah kembali berhasil menyajikan sajian yang tidak hanya sangat ‘lezat dikonsumsi’ namun juga ‘sarat gizi’.

Perlu diingat, kala awal mendengar perihal akan dibuatnya film ini, meski banyak orang yang tidak disangsikan lagi merasa penasaran dan ingin mengetahui bagaimana perjuangan serta siapa dan bagaimana sosok Mark Zuckerberg, sang kreator situs Facebook yang sangat fenomenal serta berperan penting dalam hidup hampir semua orang yang ada di muka bumi ini, proyek film ini tidak sedikit juga dijadikan bahan tertawaan oleh orang-orang yang skeptis dengan ide kemunculan film mengenai Facebook.

Umumnya yang ada di pikiran, pihak yang skeptis saat itu kurang lebih pertanyaan, “Apa menariknya film mengenai remaja nerd membuat sebuah situs?” Belum lagi, jangan lupakan kemungkinan hadirnya dialog-dialog  panjang dengan istilah-istilah khusus di bidang komputerisasi yang bisa jadi asing di telinga orang awam.

Akan tetapi, begitu film ini mulai dirilis, hampir semua kalangan terhenyak lalu kemudian mau tidak mau menelan ludahnya dan keraguan pun bermanuver menjadi puja –puji, tidak hanya dari publik pecinta film, bahkan  sebagian besar kalangan kritikus pun rasanya sepakat kalau Fincher kembali menyelesaikan pekerjaan rumahnya dengan sangat gemilang.

Betapa tidak, meski konon kisah The Social Network tidak sepenuhnya akurat dengan apa yang terjadi sebenarnya serta terdapat beberapa plot hole, sejak 10 menit  pertama Fincher sudah berhasil menyajikan adegan yang bisa mendatangkan mood yang positif dan secara tegas ibarat menyatakan diri akan seperti apa sajian yang dihadirkannya di sini.

Baca Juga:  Poster Anyar All My Life Tampilkan Pose Romantis Jessica Rothe & Harry Shum Jr.

Pada malam musim gugur tahun 2003, mahasiswa Harvard dan jenius soal pemograman komputer, Mark Zuckerberg duduk di depan komputernya dan mulai mengerjakan sesuatu yang baru. Dalam hal blogging dan pemrograman, apa yang dimulai di kamar asramanya itu segera menjadi sebuah jaringan sosial global dan revolusi dalam komunikasi.

Hanya butuh enam tahun, jejaring sosial ini sudah meraup 500 juta pengguna. Hal ini membuat Mark Zuckerberg menjadi miliarder termuda dalam sejarah. Meski begitu, kesuksesan yang diraihnya pun mengarah pada komplikasi pribadi dan juga hukum.

Berbanding terbalik dengan apa yang diperkirakan, The Social Network meski memang berisikan dialog-dialog panjang, namun tidak membuat jemu, bahkan sangat kontras, di mana adegan-per adegannya tampil penuh energi dan bisa memacu andrenalin. Lewat pengambilan shot-shot cepat terutama dialog-dialog yang saling bersahutan, Fincher sukses menjaga mood penonton dengan sangat baik.

Dan, tentu saja nilai plus pantas ditambahkan, karena perlu dicatat, tidak ada secuilpun adegan efek spektakuler maupun adegan aksi berbau laga ada (bahkan satu layangan tinju pun sama sekali tidak ada) di sini, namun jika boleh beropini, The Social Network tak ubahnya Inception, namun dengan dana yang lebih minimalis serta minus aksi dan efek.

Selain Fincher dengan cermat menata adegan-adegan yang ada, jajaran pemain yang terlibat di sini layak mendapat acungan jempol terutama untuk pemeran Mark Zuckerberg; Jesse Eisenberg yang penampilannya dijamin akan membuat jengkel penonton. Jangan lupakan pula pemilihan score yang brilian juga berhasil menambah nyawa dan energi positif  karya penyutradaraan Fincher kali ini. Bahkan secara pribadi, dibandingkan karya Fincher sebelumnya; Benjamin Button maupun bahkan Se7en dan Fight Club, TSN lebih menarik dan jauh lebih mudah dicerna.

Baca Juga:  Mank karya David Fincher dan The Prom karya Ryan Murphy, segera tayang di Netflix

Pendek kata, secara keseluruhan TSN adalah film yang sangat sulit untuk tidak disukai, bahkan untuk kalangan awam yang sebenarnya tidak menyukai genre film drama sekalipun. Pun dari film itu, Fincher juga mengindikasikan bahwa ada kekuatan yang sama dahsyatnya dengan kekuatan cinta (yang kerap digaung-gaungkan oleh para sineas di berbagai belahan dunia manapun) yakni kekuatan kebencian.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.