Review Film The Nutcracker and The Four Realms

1632

Cerpen klasik karangan E.T.A. Hoffmann ini aslinya  berjudul Nutcracker and The Mouse King. Secara turun-temurun, narasinya dipakai untuk pertunjukan balet dengan iringan waltz of the snowflake, dan waltz of flowers dari Tchaikovsky yang turut ditampilkan di film bernuansa ‘high class’ ini.

Naskah aslinya mengalami banyak modifikasi dan salah satu versi populernya mengisahkan pangeran yang dikutuk menjadi boneka Nutcracker. Untuk memecahkan kutukan tersebut, Nutcracker harus mengalahkan Mouse King. Nutcracker pun bertemu Mary Stahlbaum yang akan membantunya mengakhiri kutukan.

Di versi Disney, mereka menceritakan keturunan Mary, yaitu Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy). Di film ini, Mary dikisahkan baru saja meninggal. Clara adalah protagonisnya dan Nutcracker (Jayden Fowora-Knight) hanya muncul sebagai peran pembantu, so seharusnya film ini lebih cocok diberi judul; Clara and The Four Realms.

Film ini sepenuhnya berfokus ke satu karakter, si ‘special snowflake’ Clara. Berbeda dari dua saudaranya, ia memperoleh hadiah spesial dari ibunya berupa telur angsa misterius dengan lubang kunci. Untuk membukanya Clara membutuhkan kunci khusus yang nantinya akan ia cari di dunia lain.

Karena berbagai tudingan yang dilayangkan ke Disney menyangkut kesetaraan gender, LGBT, hingga isu white supremacy (yang kini sedang tren), mendorong Disney mengubah strategi dengan merombak kembali plot dalam dongeng mereka dan menonjolkan karakter ‘princesses’ yang lebih independent dan smart. Mereka juga mulai menambahkan karakter multi-etnic, meskipun semua ini bukan sesuatu yang baru-baru amat dengan rilisnya Mulan, Pocahontas, Frozen, dan seterusnya. Beberapa kisah klasik Disney bahkan mengalami plot twist yang membelokkan perspektif dengan menampilkan sisi lain seorang villain. Contohnya yang cukup ikonik, Maleficent. Hal yang sama juga diterapkan ke Mouse King dan Mother Ginger (Helen Mirren) yang di awal film dikisahkan sebagai antagonis.

Baca Juga:  Proses Shooting Spider-Man: Homecoming Telah Selesai

Namun sepertinya strategi baru Disney menjadi suatu klise yang terus berulang hingga saat menonton trailer filmnya saja sudah dapat diprediksi akan menampilkan visi apa dan bagaimana plot twist-nya. Film ini juga kurang lebih memiliki kemiripan dengan Narnia dan Alice in Wonderland karena si tokoh utama masuk ke dalam portal (menyerupai Narnia) dan Voila! Seketika Clara tiba di negeri wonderland bersalju. Seperti halnya Narnia dan Alice, Clara menemukan petualangan, berperang melawan kejahatan, menemukan jati diri, dan akhirnya kembali ke dunianya.

Nutcracker and The Four Realms memang ditujukan bagi audiens di bawah umur, tapi batasannya kurang jelas karena film ini lebih banyak memasukkan unsur serius daripada komedi, malahan komedi yang muncul di beberapa scene terlalu canggung untuk anak di bawah umur.

Meskipun terdapat improvement dengan munculnya karakter yang lebih universal, Disney masih belum bisa move-on dari sindrom princess dan prince atau king, queen, apapun itu yang malah bertentangan dengan pesan kesetaraan. Contohnya, saat berada di negeri wonderland, Clara menemukan fakta bahwa ibunya seorang ratu dan karenanya, semua orang yang ia temui menunduk hormat kepadanya, ada pula satu adegan di mana Clara kecil ini malah terkesan superior ke bawahannya.

Dengan hanya berfokus di satu karakter tokoh utama, aktor sekelas Morgan Freeman dan Helen Mirren tampil dengan kostum nyentrik dan berakting sekadarnya. Mackenzie Foy (Twilight, Interstellar) dengan paras menjual, dapat dipastikan memiliki masa depan cemerlang, meskipun aktingnya tidak terlalu menonjol. Sementara itu akting Kiera Knightley (pemeran Sugar Plump) di film ini, terkesan tidak natural dengan gaya suara yang dibuat-buat.

Karena alur ceritanya mudah ditebak, dan pengkarakteran tiap tokoh yang kurang memberi kesan mendalam, film ini terbilang cukup membosankan, ditambah lagi petualangan yang minim tantangan, tidak ada kesulitan berarti yang dialami sang protagonis yang cukup menarik simpati audiens, para villain juga kurang memberi kesan jahat dan berbahaya. Satu-satunya penyelamat film ini hanyalah visualisasinya yang megah dengan warna- warna menakjubkan, dan itulah yang selalu dijual Disney pula diekspektasikan audiens cilik (khususnya perempuan), kostum mewah, pesta dansa, balet, mansion, dan sebagainya.

Baca Juga:  James Gunn Beri Perkembangan Terbaru Tentang Film Guardians of the Galaxy Vol. 2

 




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.