The Last Dance: Tiga Fakta Menarik Seputar Michael Jordan dan Chicago Bulls

1253

Nama Chicago Bulls tentu sudah tidak asing di telinga pencinta olahraga basket. Terbentuk pada tahun 1966, tim tersebut dikenal sebagai salah satu penghasil star athlete bertalenta tinggi – contohnya Michael Jordan. Lewat The Last Dance, serial garapan ESPN dan Netflix, audiens diajak untuk mengenal lebih dekat sosok berjuluk “Air Jordan” ini. Tidak hanya itu, miniseri tersebut juga membeberkan sejumlah fakta menarik seputar Michael “MJ” Jordan, dan berikut adalah beberapa di antaranya.

Memiliki Jiwa Kompetisi Tinggi


Melalui The Last Dance, audiens dapat melihat apa yang membuat Jordan dipandang sebagai star athlete. Ternyata, semua itu berawal dari jiwa kompetisi yang diajarkan oleh James R. Jordan Sr., ayahnya. MJ selalu bersaing dengan kakak tertuanya – Larry Jordan – dalam berbagai hal, utamanya olahraga basket dan bisbol. Hal itulah yang membuatnya ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari kakaknya.

Sementara masalah tinggi badan menghambat Larry untuk menjadi seorang atlet, Michael berhasil mengungguli kakaknya berkat usaha kerasnya.

Karirnya di Chicago Bulls Nyaris Berakhir


Jordan bergabung dengan Chicago Bulls pada tahun 1984 dan memulai season pertamanya dengan baik. Tetapi di awal musim kedua, ia mengalami cedera pada pertandingan ketiga sehingga terpaksa melewatkan 64 game lainnya. Meski para dokter menyuruhnya untuk beristirahat total, Michael Jordan justru berusaha keras supaya kakinya bisa pulih lebih cepat.

Khawatir dengan kondisinya, Jerry Reinsdorf sang pemilik Chicago Bulls memberikan sebuah gambaran. “Kalau kau sakit kepala dan kuberikan 10 obat, tapi salah satunya bisa membunuhmu, maukah kau meminumnya?” Dan jawaban yang ia berikan adalah “It depends on how f***ing bad the headache is.”

Baca Juga:  Anya Taylor-Joy Adalah Master Catur Jahat di Limited Series The Queen's Gambit

Jordan Bantu Pertahankan Phil Jackson


Awalnya bergabung sebagai asisten pelatih di tahun 1987, Phil Jackson diangkat menjadi pelatih utama Chicago Bulls pada tahun 1989. Walau memiliki gaya coaching unik, ia berhasil membawa Bulls memenangkan tiga kejuaraan berturut-turut. Meski begitu, perseteruan dengan Jerry Krause selaku general manager Chicago Bulls membuat Jackson hampir dipecat dari posisinya.

Berkat keterlibatan Jordan yang mengancam akan berhenti, pihak manajemen akhirnya mempertahankan Jackson untuk melatih Bulls meski hanya untuk periode 1997-1998. Setelah menjalani musim terakhir, yang ia sebut sebagai “The Last Dance,” Phil Jackson sempat bersumpah untuk berhenti melatih. Tapi setelah rehat selama setahun, ia kembali sebagai coach untuk Los Angeles Lakers.

Pada awalnya, The Last Dance dijadwalkan untuk memulai penayangan pada bulan Juni 2020. Tapi terjadinya pandemi global COVID-19 membuat pihak studio mempercepat perilisannya ke bulan April kemarin. Dikatakan bahwa serial dokumenter ini bakal hadir dalam 10 episode, dan hingga kini, sudah 6 episode yang ditayangkan. [Aseek]

Source




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.