Screening Room

Tentang Screening Room dan Pro Kontra yang Ditimbulkan

1747

Screening Room

Jika anda ingin menonton film secara eksklusif di hari pertama rilis, satu-satunya cara yang bisa dipilih adalah pergi ke bioskop terdekat dan menonton film yang anda inginkan. Boleh dibilang kebiasaan untuk menonton film di bioskop pada hari pertama ini sudah menjadi tradisi di berbagai belahan dunia. Ada banyak orang yang rela menunggu sekian bulan, bahkan hingga hitungan tahun untuk menunggu film kesayangannya rilis di bioskop, contoh sederhananya mungkin Star Wars: The Force Awakens.

Meskipun begitu, banyak juga orang yang lebih memilih untuk duduk manis di rumah dan menonton film di kamar maupun ruang keluarga dalam format DVD, Blu-Ray, televisi, ataupun format lainnya. Tipe penonton yang satu ini jumlahnya tak sedikit, atau mungkin lebih banyak dari penonton bioskop. Contoh sederhana yang bisa saya gambarkan adalah kalangan yang memilih untuk menonton film baru secara ilegal melalui versi bajakan. Ada dua alasan utama atas pilihan ini, pertama karena malas pergi ke bioskop dan yang kedua karena malas mengeluarkan uang. Tipe penonton ini bahkan dibagi lagi menjadi dua sekte; yang tak sabar menunggu (bajakan versi kualitas rendah); dan yang sabar menunggu (bajakan versi kualitas tinggi). Namun tak melulu secara ilegal, banyak juga orang yang menonton film via kaset DVD ataupun Blu-Ray original meskipun harus sabar menunggu hingga beberapa bulan setelah perilisan film di bioskop.

Penonton yang tak pergi ke bioskop di hari pertama perilisan film ini lah yang coba dirangkul oleh Screening Room.

Tentang Screening Room

Screening Room adalah perusahaan start-up buatan Sean Parker dan Prem Akkaraju yang akan memfasilitasi para penonton untuk menyaksikan film di rumah bersamaan dengan tanggal perilisan di bioskop. Dengan kata lain, Screening Room menyajikan solusi bagi penonton film yang jarang pergi ke bioskop untuk bisa menonton film secara eksklusif di rumahnya masing-masing tanpa harus pergi dan mengantri di bioskop di hari perdana penayangan. Perusahaan ini dibuat oleh Sean Parker yang dulunya pernah membuat kekisruhan dengan Napster, sebuah situs berbagi musik yang muncul di tahun 1999 dan kemudian ditutup pada tahun 2001 karena masalah hak cipta. Kejeniusan Sean Parker dalam membuat Napster ini bisa kamu lihat di film dokumenter berjudul Downloaded.

Harga dan Kebijakan Screening Room

Untuk menonton film secara eksklusif di hari pertama tentu membutuhkan effort yang lebih dari segi waktu maupun finansial. Dengan Screening Room anda memang tak perlu lagi meluangkan waktu untuk pergi ke bioskop, namun anda harus mengeluarkan kocek sebesar $50 (Rp 658.300) untuk menyaksikan film di hari perdana perilisannya. Itu belum termasuk dengan harga set-top box yang juga harus dibeli dengan biaya $150 (Rp 1.975.000). Setelah mengeluarkan biaya yang tak sedikit itu, barulah anda dapat menyaksikan film yang diinginkan dalam kurun waktu 48 jam, dengan biaya $50 tiap kali menonton. Untuk mencegah pembajakan saat menyalurkan film ke tiap rumah, set-top box Screening Room yang diberikan kepada para pelanggan tersebut nantinya akan difasilitasi dengan teknologi anti pembajakan.

Baca Juga:  Adam McKay Menyatukan Pemeran All-Star dalam Proyek Don't Look Up

Untuk model bisnis yang dijalankan, pembagian hasil yang dicanangkan oleh Screening Room kepada distributor dan bioskop bisa dibilang cukup menggiurkan. Dari biaya $50 tadi, sebanyak $20 akan diberikan kepada masing-masing distributor dan bioskop, sedangkan Screening Room hanya akan mendapatkan $10. Nantinya, setiap penonton yang menggunakan layanan Screening Room akan mendapatkan 2 tiket gratis untuk menonton film tersebut di bioskop. Tiket gratis ini disiapkan oleh Screening Room agar para penonton tetap pergi ke bioskop untuk menonton film.

Setelah muncul ke permukaan, Screening Room ternyata membelah penggiat film di Hollywood menjadi dua kubu, ada yang mendukung dan ada juga yang menolak ide ini.

Pihak yang Mendukung

Tak sedikit sineas Hollywood yang mendukung konsep yang ditawarkan oleh Screening Room. Adalah Steven Spielberg, J.J. Abrams, Ron Howard, Brian Grazer, dan Peter Jackson yang mendukung penyedia layanan streaming ini. Mereka semua adalah pendukung kunci, tak hanya sebagai nama besar, mereka juga menjabat sebagai stakeholder untuk perusahaan start-up ini. Salah satu nama besar lainnya adalah Jeff Blake, Vice Chairman dari Sony Pictures yang telah memberikan konsultasi kepada Screening Room sejak beberapa bulan yang lalu dan juga membantu dalam mengembangkan bisnisnya.

Dikutp dari laman Variety, Peter Jackson yang menyutradarai saga The Lord of the Rings dan The Hobbit ini memberikan pernyataannya terkait dukungannya terhadap Screening Room.

“Saya pernah khawatir dengan ‘DirecTV’ di tahun 2011, karena konsepnya yang saya percaya akan menyebabkan kanibalilasi pendapatan bioskop, sehingga sangat merugikan bisnis film.

Screening Room, bagaimanapun, merancang dengan sangat hati-hati dalam menangkap para penonton yang tak pergi ke bioskop.

Itulah titik perbedaan yang diberikan oleh DirecTV dan Screening Room yang kuat dalam strategi anti pembajakan, itu mengapa Screening Room mendapatkan dukungan saya.

Screening Room akan mengembangkan para penonton film – bukan memindahkannya dari bioskop ke ruang tamu. Ini tidak membuat studio untuk melawan pemilik bioskop. Justru ini menghargai keduanya, dan strukturnya dibuat untuk mendukung kedua bisnis eksibitor maupun distributor dalam jangka panjang – menghasilkan keberlangsungan industri film yang lebih luas dan lebih baik.”

Hingga saat ini, rumornya sudah ada beberapa studio besar yang tertarik dengan Screening Room yaitu Universal, Fox, dan Sony. Bahkan yang sedang hangat, studio yang sudah hampir bekerja sama dengan Screening Room adalah AMC, pembesut serial Breaking Bad dan Better Call Saul. AMC sendiri nantinya akan menjadi eksibitor terbesar di dunia jika berhasil membeli Carmike Cinemas.

Pihak yang Menolak

Pihak yang kontra dengan Screening Room juga tak sedikit, ada nama Christopher Nolan, James Cameron, dan Jon Landau. Mereka bertiga pada dasarnya tak setuju dengan konsep ini karena akan mengurangi nilai dan esensi dari menonton film yang sejatinya dilakukan di bioskop. Sang sutradara Inception dan Interstellar ini memberikan pernyataannya terkait Screening Room.

“Sangat susah untuk mengeskpresikan pentingnya presentasi eksklusif secara teaterikal di industri kita lebih dari yang Jon Landau dan James Cameron katakan”

Dalam penjelasannya  di atas, Nolan menyebut nama Jon Landau dan James Cameron yang sudah terlebih dahulu memberikan pernyataan akan penolakannya terhadap Screening Room.

“Jim dan saya tetap berkomitmen untuk menjaga kesucian dari pengalaman di bioskop. Bagi kami, dari segi kreatif maupun finansial, adalah penting untuk menawarkan film secara eksklusif di bioskop ketika awal perilisannya. Kami tak mengerti mengapa industri mau menyediakan insentif bagi para penonton untuk melewatkan bentuk pengalaman terbaik dari seni yang telah kami ciptakan dengan sangat susah payah”

Tak hanya dari para sineas, penolakannya juga dilontarkan oleh grup pemilik bioskop Amerika yang bernama National Association of Theater Owner (NATO). Grup ini secara halus menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Screening Room yang dianggap sebagai pihak ketiga bisnis film, atau dengan kata lain bukan distributor maupun eksibitor.

“NATO telah secara konsisten menyerukan kepada distributor film dan eksibitor untuk berdiskusi sebagai model mitra perilisan yang dapat menumbuhkan bisnis bagi semua orang. Model yang lebih canggih mungkin dibutuhkan untuk kesuksesan pertumbuhan dari industri film. Model tersebut seharusnya dikembangkan oleh distributor dan eksibitor dalam diskusi perusahaan-ke-perusahaan, bukan dari pihak ketiga”

Tak hanya dari sineas ternama ataupun NATO, penolakan ini juga dinyatakan oleh Art House Convergence. Sebuah grup yang memiliki hingga 600 bioskop khusus ini beranggapan bahwa start-up yang dijalankan oleh Sean Parker dan Prem Akkaraju dapat memantik ‘api’ konten pembajakan. Meskipun dilengkapi dengan teknologi anti pembajakan, anggota Art House Convergence masih mempertanyakan bagaimana hal tersebut bisa mencegah para pengguna dalam merekam konten.

“Jika studio khawatir kepada projeksionis dan perekaman video di bioskop dengan menyediakan keamanan berupa night vision goggles saat premiere dan minggu pembuka, lantas bagaimana mereka beralasan jika penonton di rumah tidak menyiapkan kamera HD seharga $40 dan merekam film secara dekat lalu mengunggahnya ke torrent?

Hilangnya pendapatan dari turunnya box office dan pembajakan akan berakibat pada hilangnya sejumlah pekerjaan, baik tingkat pemula dan jangka panjang, dari pekerja paruh waktu dan penjual tiket hingga projeksionis yang bekerja penuh dan para programmers, dan akan secara negatif berimbas pada pembangunan industri restoran dan bisnis sekitar.

Sektor eksibisi kami selalu menerima inovasi, kritik dan ide yang maju, terutama pada layar independen; bagaimanapun, kami tidak melihat Screening Room sebagai inovasi atau sebuah pikiran maju untuk mendukung kami; justru, kita melihatnya sebagai undangan pembajakan dan secara signifikan mengurangi profitabilitas dari perilisan film”

Opini Penulis

Dalam menciptakan gagasan baru, tentu akan tercipta pihak pro dan kontra, begitu juga dengan Screening Room. Meskipun baru menginjak tahap pengajuan proposal, namun gagasan Screening Room yang akan berdampak positif dan negatif ini sudah berhasil meraih atensi dari publik maupun pemberitaan media. Sebuah nilai plus tersembunyi yang saya yakin sudah dipersiapkan oleh Sean Parker.

Baca Juga:  Film Sherlock Junior Dipersiapkan oleh Netflix

Sebagai penonton, saya rasa kemunculan Screening Room menodai nilai sakral dari sebuah film. Menonton bukan hanya dilihat dari isi cerita dan penyampaian film. Menonton juga dipengaruhi oleh media dan cara menonton yang kita lakukan. Sebagai bentuk lain dari seni, film yang dilahirkan dari bioskop ini sudah seharusnya pula dinikmati dalam bioskop. Lampu yang padam perlahan, keriuhan penonton, gangguan suara, interaksi dengan penonton lain, menikmati popcorn, dan mengantri tiket adalah bentuk tak sadar dalam menikmati film yang secara lahiriah sudah dijaga lintas generasi.

Saat ini dengan adanya teknologi yang semakin berkembang kita memang dimudahkan untuk menonton film. Televisi, komputer, tablet, ataupun media lainnya, itu semua hanyalah opsi lain di samping pilihan utama dalam menikmati film yaitu bioskop. Sudah sewajarnya jika bioskop merasa harus diprioritaskan, karena sebuah film hanya dapat disajikan secara maksimal melalui layar bioskop. Misalnya saja, film Gravity yang ditonton secara 3D di bioskop tentu akan memiliki rasa yang berbeda jika kita menontonnya di rumah. Efek suara dan musik yang dihasilkan oleh film Mad Max: Fury Road pun juga tak mungkin bisa dinikmati secara maksimal selain di dalam bioskop.

Isu yang diciptakan oleh Screening Room pada dasarnya hanyalah friksi pendapat soal penayangan perdana film di bioskop yang juga bisa dinikmati dalam rumah. Tak banyak yang membahas soal mediumnya, karena pro dan kontra yang ada mempermasalahkan nilai eksklusifitas film yang harusnya disajikan pertama kali di bioskop. Setelah tayang di bioskop, film yang kemudian tayang di berbagai media lain bukan lagi jadi masalah. Waktu yang bersamaan inilah yang jadi perdebatan. Meskipun nantinya bioskop tak lagi eksklusif, namun saya yakin pelanggan Screening Room hanyalah kaum dengan penghasilan berlebih yang rela mengeluarkan cukup banyak uang.

Baca Juga:  Syfy Rilis Sneak Peek 7 Menit dari Serial Terbaru Mereka, Resident Alien

Namun siapa yang bisa menjamin jika nantinya pengguna layanan Screening Room tak melakukan pembajakan? Menyaksikan film blockbuster di hari perdana dengan kebebasan sepenuhnya tentu menggiurkan para pembajak, dan ini yang sangat menakutkan bagi industri film.

Bukan bermaksud untuk skeptis, tapi imbas dari Screening Room mudah ditebak akan mengurangi jumlah penonton bioskop. Secara sistematis, pelanggan yang menyalahgunakan Screening Room akan dengan gampang merekam film via kamera pribadinya. Setelah berhasil direkam, film yang rilis di hari perdana ini lalu bisa diunggah ke dunia maya dan penikmatnya sudah jelas kaum dengan ekonomi kelas menengah ke bawah. Jika sudah seperti ini, eksklusifitas bioskop akan turun drastis karena mengunduh film via internet akan jauh lebih mudah dan ekonomis.

Meskipun Screening Room belum dicoba, namun saya tetap setuju dengan pendapat Christopher Nolan, James Cameron, dan Jon Landau. Cara terbaik untuk menikmati film adalah dengan menontonnya di bioskop.

Bagaimana dengan pendapat anda? Tulis di kolom komentar di bawah ini.

Sumber Data: Variety, Independent, Vulture, Deadline

Baca juga: Christopher Nolan Tak Setuju dengan Screening Room