saidjah adinda

Saidjah Adinda, kisah cinta di masa kolonialisme Belanda

650
Satu kisah dari buku Max Havelaar karya Multatuli , dengan latar lokasi di tanah Banten, telah dibuat filmnya dengan judul Saidjah Adinda.
Film Saidjah Adinda telah tayang perdana pada tanggal 21 Januari 2021 di Bioskop  XXI Ramayana Kota Cilegon, Banten

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KREMOV PICTURES OFFICIAL (@kremovpictures)

Film  Saidjah Adinda menarik karena disela-sela drama cinta antara sepasang muda mudi di pelosok desa, juga menyampaikan kisah perlawanan masyarakat desa saat itu kepada pihak kolonialisme.
Secara khusus, sutradara Darwin Mahesa saat penayangan perdana tersebut menyampaikan bahwa kisah romantis dari buku Max Havelaar, di bab 17.  Bukan sekadar percintaan, tapi juga pesan mendalam untuk memanusiakan manusia, dengan periode waktu sekitar tahun 1860
Adapun para pemerannya antara lain:
1.Rizky Darta berperan sebagai Adinda,
2.Achmad Ali Sukarno sebagai Saidjah,
3.Christian Bernard Leitner berperan sebagai Edward Douwes Dekker
4.Arswendi Nasution sebagai Abah Saidjah,
5.Egi Fredly sebagai Bupati Lebak tahun 1856, dan
6.Jajang C Noer sebagai Ibu Neng
serta melibatkan 60 kru lokal, 15 aktor pendatang, 7 artis senior, 50 figuran dan 200 ekstras.
Diperjelas lebih lanjut bahwa latar film  Saidjah Adinda merupakan gambaran Kabupaten Lebak di zaman kolonial.
Adapun buku itu sendiri ditulis oleh Max Havelaar pada tahun 1859 dan telah terbit pada tahun 1860 dengan judul asli Max Havelaar, of de koffij-Maatschappi atau dalam bahasa Indonesia Max Havelaar: Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda.
Berikut adalah trailernya

Kami harap bisa diterima oleh masyarakat Indonesia, bukan hanya masyarakat Banten, karena film Saidjah Adinda sudah dinantikan,” tandas  Darwin Mahesa.
Dalam channel youtube rumah produksi film ini ,  Kremov Pictures  juga diperlihatkan proses pembuatan film ini, meliputi dari riset dan lokasi, proses casting hingga kegiatan saat pra produksi.
Videonya dapat dilihat dibawah ini

Riset film ini dilaksanakan sejak tahun 2014 , kemudian diteruskan pada tahun 2019, hingga akhirnya diproduksi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kremov Pictures pada tahun 2020 dengan suatu harapan agar film ini mampu menumbuhkan semangat dan memperkenalkan kembali budaya Indonesia ke generasi muda.

Baca Juga:  Serunya acara spesial screening Violet Evergarden: The Movie

Sebelum diproduksi, skenario Saidjah dan Adinda dibedah langsung oleh kepala Museum Multatuli Lebak, Ubaidillah Muchtar bersama penulis novel Niduparas Erlang. Hal ini dilakukan demi tercapainya ekspektasi pembaca Max Havelaar dalam film Saidjah dan Adinda. Bahkan untuk mencapai tujuan tersebut Darwin Mahesa juga membawa konsep film dan naskah ini untuk dipresentasikan kepada Guru Besar, Dosen serta Mahasiswa Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta.

Secara khusus Sekretaris Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Darmawati, juga menyampaikan bahwa tidak banyak film yang berbicara tentang sejarah Indonesia, dan diharapkan makin banyak lagi, karena saat ini sedang gencar berbicara ke-Indonesiaan.
Distribusi dan pemutaran film ini akan dilaksanakan oleh Kemendikbud, dan rencananya akan melalui program nonton bareng di setiap bioskop dan daerah.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.