Review The Raincoat Killer

272

The Raincoat Killer: Chasing a Predator in Korea adalah serial dokumenter Netflix baru. Serial dokumenter ini mengikuti penyelidikan intensif kepolisian negeri ginseng itu untuk menangkap pelaku kejahatan keji yang merupakan salah satu kasus pembunuhan berantai pertama yang diketahui di Korea Selatan.

Bagi yang sudah menyaksikan film drama thriller The Chaser (baca reviewnya di sini) sajian yang dituangkan dalam tiga episode serial dokumenter ini mungkin tidak asing bagi Anda. Pasalnya, sudah bukan rahasia lagi kalau film garapan Na Hong-jin yang dibintangi Kim Yoon-seok, Ha Jung-woo, Yeong-hie Seo, dan Kim Yoo-jeong ini memang kisahnya diinspirasi dari kasus ini.

Seperti kebanyakan tayangan dokumenter tentang kasus kriminal lainnya, dalam The Raincoat Killer: Chasing a Predator in Korea yang digarap sutradara John Choi ini, para detektif dan profiler kriminal negeri ginseng, beberapa di antaranya Park Ki-ryun dan Kwon Il-yong yang menangani kasus tersebut mengungkapkan bagaimana mereka menyelidiki pembunuhan tersebut dan akhirnya membawa Yoo ke pengadilan.

Di seri dokumenter itu juga dijelaskan bahwa pada awalnya, saat kasus ini mulai mendapat perhatian serius pihak kepolisian setempat, di Korea Selatan konsep β€œpembunuh berantai” adalah sesuatu yang relatif baru. Tetapi, setelah beberapa kasus yang ditemukan terdapat beberapa kesamaan, polisi mau tidak mau mengakui bahwa pelaku yang sama berada di balik kejahatan ini. Saat polisi dari beberapa kantor polisi berbeda di Seoul menyelidiki, si pembunuh terus melakukan pembunuhan. Terkadang hanya berselang beberapa hari.

Terungkap kemudian bahwa pelaku rangkaian pembunuhan keji itu adalah Yoo Young-chul, seorang pria yang punya kecenderungan bersifat brutal. Menggunakan senjata tumpul, korban-korban Young-chul awalnya adalah orang-orang berusia lanjut. Baru kemudian ia mulai menargetkan wanita (seringkali para pekerja seks komersial-red). Pembunuh berantai Yoo Young-chul membunuh sedikitnya 20 orang dari tahun 2003 hingga 2004 di seluruh ibu kota Korea Selatan, secara khusus menargetkan pekerja seks wanita dan orang tua yang kaya.

Baca Juga:  Teaser Trailer Detective Conan: The Bride of Halloween Mengisyaratkan akan Ada Konfrontasi Besar

Dalam melakukan aksinya,bisa dikatakan motif Young-chul awalnya membingungkan para penyidik. Pasalnya, tindakannya bukan didasari desakan kebutuhan finansial atau tindak kriminal biasa lainnya. Dari korban-korbannya, ia sepertinya tidak pernah mengambil apapun, baik itu uang, perhiasan, atau barang berharga lainnya. Namun, saat ia akhirnya dapat diringkus, Young-chul mengklaim bahwa motifnya adalah kebenciannya pada wanita dan orang-orang kaya.

Dalam dokumenter itu pula, ada beberapa sesi di mana si pembunuh langsung menjadi narator dari ceritanya sendiri. Yang sedikit banyak, hal ini menambah level kengerian sendiri, karena di situ terlihat jelas bahwa ia menunjukkan ketidakpeduliannya sepenuhnya terhadap manusia lain dan tentunya juga, itu menyoroti “motif” -nya (jika Anda bisa menyebutnya begitu) yaitu ia suka membunuh. Ia beralih dari membunuh setiap bulan ke setiap minggu karena kebutuhannya akan “perasaan itu” meningkat! Anda juga akan belajar bagaimana ia menyingkirkan mayat-mayat itu dalam metode brutal dan menjijikkan untuk membunuh dan membuang mayat.

The Raincoat Killer: Chasing a Predator in Korea sama seperti banyak seri kejahatan nyata di Netflix, The Raincoat Killer adalah dokumentasi menyeluruh dan ditulis dengan baik dari Yoo Young-Chul yang terkenal. Tiga episode bekerja dengan baik untuk menceritakan kisah yang lebih besar, dengan beberapa narasi cerdas tentang sejarah dan budaya Korea pada saat itu. Tidak seperti beberapa dokumen Netflix, The Raincoat Killer tidak pernah melampaui sambutannya. Dengan setiap episode berdurasi sekitar 45 menit atau lebih, ketiga bagian itu saling melengkapi dengan baik dan menceritakan kisah yang jauh lebih besar yang tentu saja bergema hingga hari ini.

Secara visual, The Raincoat Killer menggunakan kombinasi cuplikan reka ulang cahaya, foto TKP dan peta yang membantu menunjukkan area umum. Setiap kejahatan ditandai dengan semburat darah yang semakin besar, yang juga memperkuat tingkat pembunuhan besar-besaran yang dilakukan pria ini – terutama selama Mei dan Juni 2004. Jika Anda belum pernah mendengar tentang kasus ini, ikat diri Anda dan bersiaplah untuk perjalanan yang sangat mengerikan. The Raincoat Killer adalah kasus buruk dan mengerikan yang menyelinap ke dalam budaya Korea dan menolak untuk berhenti sampai akhir episode terakhir.

Baca Juga:  Sarinah Jakarta Content Week 2021 Tampil Offline 1-12 Desember 2021

The Raincoat Killer: Chasing a Predator in Korea dapat disaksikan di Netflix