Review : Kucumbu Tubuh Indahku menguak dunia penari Lengger

1241

Kucumbu Tubuh Indahku

 

Karya sineas Garin Nugroho memang selalu menarik dan ditunggu-tunggu. Filmnya  semenjak tahun 2005 memang lebih banyak menyentuh budaya Jawa. Bahasa filmnya memang banyak mengandung unsur-unsur simbolik , sehingga sangat indah bagi penonton pencinta  budaya , namun agak berat bagi para penonton yang menginginkan tontonan yang sederhana.

Dalam siaran pers yang diselenggarakan  tanggal 15 April 2019 di bioskop XXI Plaza Indonesia. Para penari muncul dari lift yang menuju ruang bioskop dan yang sempat mengejutkan para hadirin adalah munculnya Rianto.

Rianto adalah salah satu penari lengger yang berjuang untuk tetap menghadirkan jenis tarian ini, di ruang budaya yang terhimpit  isue masa kini , prinsip Agama , adat kuno, hingga kehidupan tradisional dan kotempores.

Rianto

 

Film ini memang untuk segmen tertentu, namun tetap indah ditonton bagi pada penonton umumnya.

Disinyalir semenjak tayang dari tanggal 18 April 2019 , banyak penonton yang memang tertarik dengan budaya dan karya-karya Garin Nugroho berbondong-bondong datang untuk menonton.

Seperti penulis , rata-rata mereka terkagum-kagum dengan jalinan alur cerita yang mengalir dengan rapih menceritakan Juno dari kecil hingga dewasa. Juno adalah tokoh imajinatif , dan cerita ini memang terinspirasi dari penari Lengger dengan nara sumber cerita , Rianto, beserta para penari budaya pada umumnya terutama di daerah Banyumas serta Ponorogo.

Pada saat Juno masih kecil, para penonton dibawa ke alam pemikiran anak, yang masih sederhana dan tidak mengenal yang namanya tabu maupun pantang. Ini terlihat dari tingkah ceria Juno saat menjual hasil buruannya kepada para pengemudi truk yang lewat di jalan. Juno kecil terlihat sangat dewasa, dan mampu mengurus dirinya sendiri karena Bapaknya sendiri menderita tekanan mental yang luar biasa, sehingga membuatnya sering bertingkah laku aneh termasuk mandi di sungai.

Baca Juga:  Angel of Mine Film Thriller Anyar yang Dibintangi oleh Noomi Rapace, Yvonne Strahovski dan Luke Evans

Kelak dalam adegan saat Juno dewasa, penonton baru memahami mengapa Bapaknya ini begitu terpukul dan sering bertingkah laku aneh.

Juno kecil juga belajar mengenal dunia tari dan rasa sakit akan jarum. Kelak rasa sakit ini membuat dirinya beraksi berbeda dan membentuk dirinya. Juno kecil juga belajar memahami mengapa dirinya diberi nama Wahyu Juno, dan dalam budaya Jawa, nama memang membawa alur cerita sendiri. Itulah sebabnya, mengapa jaman dahulu terkadang ada upacara pergantian nama, jika nama pertamanya ternyata membawa pengaruh tidak baik seperti sakit-sakitan hingga hal yang tidak positif lainnya. Juno kecil tanpa sadar juga mengenal seksualitas dalam beragam jender , dimulai dari ayam-ayam peliharaanya hingga ayam-ayam milik tetangganya.

Juno kecil juga belajar falsafah  hidup untuk masa depan , dan segera berlanjut . Terlihat dari perpindahan Juno dari setiap kejadian demi kejadian, dengan ditemani radio kesayangannya, serta pada masing-masing perpindahan selalu diiringi lagu yang seolah menyuarakan kejadian yang baru saja terjadi dalam kehidupan Juno.  Menarik jika diamati radio ini tak pernah lepas dari tangan Juno , baik dari Juno kecil hingga Juno dewasa.

Saat adegan menyorot kehidupan Juno dewasa, maka terlihat perubahan hidup Juno sebagai tukang jahit dan ruang lingkup hidupnya pada dunia gelap adu manusia hingga masuk lebih dalam pada dunia penari lengger dan warok lengkap dengan budaya uniknya dan adat budaya mereka yang mungkin terkesan aneh bagi masyarakat di jaman ini (gemblak, dlondong)

Alur cerita menyentuh pula segi politik dan kepercayaan tertentu yang masih melekat pada segelintir orang , terutama yang menginginkan kekuasaan dengan cara apapun. Namun dengan cuilan humor , membuat film ini seolah mempunyai irama kehidupan tersendiri. Dari bawah lalu ke atas, amarah, keceriaan , humor , kesedihan , seolah tercampur baur menjadi satu dan masuk ke dalam tubuh para penari lengger ini.

Baca Juga:  Review Film Horns - Interaksi Karakter yang Dipaksakan

Film ini ibaratnya adalah sajian makanan dengan menu lengkap, yang memperhatikan cita rasa dan paduan penataannya , sehingga menghasilkan sebuah karya yang istimewa bagi para penontonnya .

Soundtrack film ini juga sangat mengasyikkan  didengarkan, lagu-lagu lama dikemas kembali dan dengan manis berpadu dalam jalan cerita dan memberi makna tersendiri pada adegan yang disisipinya .

Salah satu lagu yang seolah melekat dengan Juno dan saat harus berpindah untuk menjalani hidup baru adalah lagu Apatis yang dinyanyikan oleh Mondo Gascaro

 

Segera saksikan di bioskop terdekat di kota anda, sebelum jadwal penayangan berakhir.

(Nuty Laraswaty)




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.