Review Film Zombieland Double Tap

538

Sepuluh tahun adalah waktu yang lumayan panjang untuk masa penantian kehadiran babak lanjutan dari film sukses. Apalagi, mengingat dinamika perfilman Hollywood masa kini, yang bergerak sangat cepat sejak tren cinematic universe mulai mengemuka. Hal itu pula yang dirasakan kalangan penyuka Zombieland.

Kalangan penikmat film pasti setuju kalau saat pertama kali dirilis satu dekade lalu, Zombieland adalah sebuah sajian inovatif. Tidak hanya untuk sekadar film bertema zombie, bahkan sekaligus untuk genre aksi, horor, dan komedi. Mengambil konsep cerita tentang orang-orang biasa yang terpaksa harus bertahan hidup dari wabah zombie berskala global, Zombieland berhasil memberikan suatu film menarik dengan mengombinasikan adegan aksi, horor, dan komedi segar.

Meski dirilis lima tahun setelah Shaun of the Dead (yang memiliki formula kurang lebih sama-red), film garapan Ruben Fleischer yang skripnya dikerjakan Rhett Reese dan Paul Wernick ini sarat terobosan “out of the box” dan unsur meta yang cerdas pun segar, baik itu melalui sebagian gaya penuturan kisahnya yang menjurus tutorial (lengkap dengan elemen visual yang eye catching) hingga pemanfaatan unsur humor dengan referensi budaya tren dunia nyata. Tidak hanya itu saja, kualitas Zombieland makin mengilap berkat performa akting empat pemain utamanya, Jesse Eisenberg, Emma Stone, Woody Harrelson, dan Abigail Breslin yang tidak hanya mampu melakoni karakter masing-masing namun juga menjalin chemistry yang teramat apik.

Dengan bujet produksi di kisaran $20 juta, Zombieland mampu meraup $102 juta. Meski demikian, tidak seperti kebanyakan film sukses rilisan abad ke-21 lainnya, perjalanan terjal harus dilalui terlebih dahulu hingga akhirnya film babak lanjutannya baru bisa terealisasi sekarang.

Dengan setting waktu sesuai dengan rentang dengan film pertamanya, Zombieland: Double Tap dibuka dengan narasi yang dituturkan oleh Columbus untuk menghubungkan film keduanya ini dengan babak pertamanya, salah satunya evolusi para zombie. Setelah satu dekade, Tallahassee, Columbus, Wichita, dan Little Rock telah menjadi semakin ahli dalam hal berurusan dengan zombie.

Baca Juga:  Tom Cruise: Aktor Terbaik Lintas Generasi

Konflik mulai meruncing saat Little Rock yang mulai beranjak remaja tidak ingin lagi diperlakukan sebagai anak kecil dan ingin menemukan rekan sebayanya, sementara Wichita malah takut saat Columbus ingin hubungan mereka lebih serius. Keduanya memutuskan pergi. Meski, kesal, Tallahassee dan Columbus tidak bisa berbuat banyak selain meneruskan hidup mereka.

Satu bulan berlalu, saat mengeksplorasi sebuah mal, Columbus berjumpa dengan Madison, seorang gadis penyintas lain, dan dengan cepat mereka berhubungan dekat. Sudah tentu saat kemudian Wichita tiba-tiba kembali, Columbus berada dalam situasi yang kompleks. Wichita kemudian menginformasikan bahwa sang adik pergi dengan seorang pria muda hippie, Berkeley. Khawatir dengan keselamatan Little Rock, mereka memutuskan untuk pergi ke lokasi yang ditujunya, Graceland.

Walaupun sempat terbengkalai selama satu dekade, dan banyak yang skeptis karena biasanya sekuel yang punya rentang waktu jauh dengan film pertamanya identik dengan hasil yang buruk, Zombieland: Double Tap terbukti dapat lolos dari generalisasi demikian. Hal ini dikarenakan, meski jika dibandingkan dengan babak pertamanya ada sedikit penurunan (terutama plotnya yang sedikit kacau-red) film ini masih tetap terasa sebagai aksi komedi menghibur yang cerdas, sebagaimana reputasi yang disandang film pertamanya dulu.

Seperti halnya sekuel pada umumnya, dalam Zombieland: Double Tap terlihat jelas pihak kreator berusaha memperbesar skalanya, dengan pengadaan deretan nama-nama lumayan mentereng: Rosario Dawson, Zoey Deutch, Thomas Middleditch, dan Luke Wilson. Dan, memang beberapa nama ini mampu mencuri perhatian, khususnya Deutch yang berperan sebagai ‘dumb blonde’ Madison, yang rasanya layak disebut sebagai scene stealer film ini. Sementara, untuk pemain lamanya, bisa dibilang penampilan mereka nyaris tanpa cela, dengan tidak terasa sekali adanya indikasi kesulitan melebur ke karakter yang mereka mainkan satu dekade lalu.

Baca Juga:  Ini Dia Film Drama/Komedi Terbaik di Tahun 2016

Secara keseluruhan, Zombieland: Double Tap adalah film sekuel yang menghibur sebagai perpanjangan Zombieland, dengan sajian kocak dan paket horor komedi cerdas yang unik. Film ini memiliki banyak adegan humor segar, dari penokohan, situasi, tren budaya populer, hingga inside joke yang sebelumnya diperkenalkan di film sebelumnya.

Film ini juga memiliki banyak referensi terhadap film pertamanya yang akan menawan para fans beratnya (jangan buru-buru beranjak hingga end credit scene berakhir-red), namun juga tetap bisa diikuti dengan mudah oleh kalangan audiens yang baru mengikutinya. Pendeknya, bagi fans Zombieland, penyuka film tentang zombie, maupun siapapun yang tertarik dengan film sekuel ini, Double Tap tetap sayang untuk dilewatkan begitu saja.  Zombieland: Double Tap akan mulai rilis luas di bioskop tanah air pada tanggal 23 Oktober 2019.

 

 

 




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.