Review Film Spider-Man: Far From Home

840

Walaupun merupakan bagian dalam MCU, sejak mengawali aksi solo perdananya melalui Spider-Man: Homecoming, di antara kalangan superhero di ranah MCU lainnya, penuangan versi terkini Spider-Man rasanya merupakan yang tonenya paling konsisten dan berbeda.

Sementara film-film solo jagoan MCU lainnya berurusan dengan permasalahan –permasalahan serius seperti upaya menggagalkan ancaman yang bisa membuat dunia berakhir, mengubah galaksi, atau menghancurkan alam semesta seraya menyuguhkan melodrama karakter mereka dengan keyakinan bahwa kisah pahlawan super harus menyenangkan, pendekatan berbeda diterapkan oleh Watts dan timnya. Dalam dua film aksi solonya ini, penuangan Spidey di sini lebih menekankan aspek fun.

Dari segi resikonya pun, jika dibandingkan dengan para koleganya, kehidupan remaja Peter Parker lebih rendah. Ia ingin mendapatkan gadis yang disukainya, dan hanya berkonfrontasi dengan tokoh antagonis yang notabene tidak terlalu tangguh.

Melanjutkan kisah Homecoming dan event setelah apa yang disajikan dalam Endgame, Sesuai judulnya, Far From Home (FFH), mengisahkan chapter Peter dan teman-teman sekolahnya melakukan studi tour ke Eropa.  Ia hanya ingin bersenang-senang menjalani masa liburnya ke Eropa dan meninggalkan kostum superheronya di kamar hotel. Namun, sudah tentu beban sebagai superhero membayanginya, saat tanda-tanda ancaman besar membuat Nick Fury menginginkan keberadaan Spider-Man untuk mengatasi ancaman baru tersebut.

Far From Home dibuka dengan penjelasan dampak kejadian di Infinity War dan Endgame terhadap realitas dunia Spider-Man. Dengan penjelasan bahwa hal itu menyebabkan adanya gap lima tahun antara yang korban The Blip (istilah snap di dunia Spidey-red). Dan, nyaris mayoritas rekan-rekan sekelas Peter menjadi korban.

Dari sini, Watts kembali menuangkan kisah tentang seorang anak muda biasa yang secara tidak sengaja menjadi superhero yang lengkap dengan problematika remajanya sehari-hari dan keinginannya menjalani kehidupan biasa adalah hal yang salah berkenaan dengan kekuatan super yang dimilikinya menuntut tanggungjawab dan kesadaran dari dirinya. Sementara banyak kalangan menginginkan Spider-Man sebagai penerus superhero besar, namun yang bersangkutan tidak yakin apakah itu merupakan yang diinginkannya, karena pada faktanya ia masih seorang anak muda.

Baca Juga:  Simak Poster dan TV Spot Baru dari Spider-Man: Far From Home

Dari segi lingkupnya, sebagaimana halnya sekuel, FFH punya skala lansekap yang lebih besar dari Homecoming, dengan petualangan hingga ke beberapa negara di Eropa dan begitu juga awal dari salah satu twistnya sebelum diungkap, yang mengindikasikan adanya kemungkinan multiverse. Namun, begitu tabir kisah sesungguhnya mulai terungkap, bakal terasa apa bidikan sesungguhnya dari tim kreator mengenai storyline yang diketengahkannya ini. Terkhusus pada duo penulis naskah Chris McKenna dan Erik Sommers, yang sepertinya di sini berusaha menghadirkan sindiran terhadap klise kisah kepahlawanan superhero.

Sebagai bagian MCU, FFH mampu menautkan dengan baik sajiannya dengan kepingan-kepingan MCU lainnya (hint: bukan hanya Endgame dan Homecoming-red), yang tidak hanya memaparkan apa yang terjadi pada para Avenger lainnya, juga menjadikan pilihan tokoh antagonis beserta motif serta metode yang dikedepankan di sini layak mendapatkan apresiasi tersendiri, meski lagi-lagi tokoh antagonis yang dihadirkan merupakan hasil plintiran dari versi komiknya, yang mungkin bisa menimbulkan kekecewaan bagi fans asli komiknya.  Sedangkan, sebagai film Spider-Man standalone sendiri, FFH mampu menindaklanjuti apa yang sudah diperkenalkan dalam Homecoming dan mampu mengembangkannya secara apik.

Ditunjang permainan apik para pemain penting lamanya, Tom Holland-Zendaya-Jacob Batallon yang semakin lebur dalam peran mereka dan muka baru Jake Gyllenhaal sebagai Quentin Beck, lewat FFH, Watts beserta timnya mampu menghadirkan sekuel yang efektif, karena sarat unsur keterkaitan dengan MCU namun juga di sisi lain mencoba untuk menjauhkan diri dan mampu berdiri sendiri sebagai saga solo yang utuh. Seperti yang tercermin dari adegan post-credit pertamanya yang menampilkan cameo luar biasa bagi salah satu karakter paling hebat di dunia Spidey, yang harus diakui mampu melambungkan ekspektasi akan masa depan dan perkembangan lanjutan saganya nanti.

Baca Juga:  Review Film Dumb and Dumber To - Kembali setelah 20 Tahun

 

 

 

 

 




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.