Review Film Under the Skin

Review Film Under the Skin – Film Sci-Fi yang Akan Membuatmu Takut

5508

Review Film Under the Skin

Film memang identik dengan storytelling (penceritaan), namun film tidak bercerita sebatas teks seperti novel atau suara seperti sandiwara radio. Kelebihan film terletak pada gambar dan suara yang mendukung unsur storytelling, hingga meski secara penceritaan ada beberapa bagian yang membingungkan atau tidak terjelaskan, film tersebut tetap dapat diterima sebagai sebuah film yang hebat jika di dalamnya terkandung visual yang kuat dan desain suara yang mumpuni. Under the Skin bisa dikategorikan sebagai film tersebut.

Dibuka dengan sebuah simbol yang menyiratkan sebuah penciptaan, dikisahkan seorang wanita tanpa nama mengendarai van di jalanan Skotlandia. Ia kemudian menggoda para lelaki kesepian dan mengajaknya ke sebuah rumah di mana para lelaki hidung belang tersebut ‘dimusnahkan’. Penonton digiring untuk mengetahui wanita tanpa nama tersebut ternyata adalah seorang alien yang mengambil wujud wanita cantik. Seiring interaksinya dengan manusia Bumi, alien humanoid tersebut semakin merasa dirinya mempunyai jiwa manusia.

Bagi yang menggemari sebuah film dengan alur penceritaan yang jelas, film ini mungkin bukan untuk Anda karena banyak hal yang tidak terjelaskan secara gamblang dalam kisahnya, namun percayalah kualitas film ini lebih dari sekadar baik. Banyak unsur yang dapat membuatnya dikategorikan sebagai film hebat. Dari sisi visual, terdapat gambar-gambar dan pengadeganan yang sangat kuat, khususnya ketika adegan ‘pemusnahan’ para laki-laki, hal tersebut terasa sangat ‘menyegarkan’ jika kata ‘orisinal’ dianggap terlalu berlebihan. Penyutradaraan Glazer terasa semakin kuat ketika ia membuat pengadeganan di dalam van dengan teknik film dokumenter, di mana ia dan sinematografernya menempatkan kamera tersembunyi di dalam van dan memancing orang-orang sekitar berinteraksi dengan sang tokoh utama. Dan, yang menjadi poin utama keunggulan utama ini film ini terletak pada performa Scarlett Johansson yang menawan. Ia sanggup menghidupkan karakter alien yang perlahan mulai mengenal sisi manusia dalam dirinya lewat ekspresi dan keberaniannya berakting tanpa busana.  

Film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Michel Faber ini mendapat respon yang positif baik dari kritikus maupun audiens ketika tayang di berbagai festival film dunia. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa Glazer telah membuat film sci-fi yang penting untuk generasi saat ini. Ilustrasi musiknya pun turut menuai pujian karena dapat memperkuat adegan demi adegan yang dirangkai oleh sutradara.

Baca Juga:  Marvel Mundurkan Jadwal Produksi Blade Hingga Tahun 2022