Ranah 3 Warna

Review Film Ranah 3 Warna , film pembuka Jakarta Film Week

114

Ranah 3 Warna adalah film pembuka pada perhelatan Jakarta Film Week lampau, dan peminat yang hendak menonton sangatlah banyak, terlihat bahwa walaupun pembelian tiket yang berlangsung secara online belum dipromosikan secara luas, telah Sold Out.

Adapun film Ranah 3 Warna ini merupakan adaptasi dari buku dengan judul yang sama , karya Ahmad Fuadi.

Sinopsis film Ranah 3 Warna

Alif baru menempuh pendidikan di Pondok Madani. Ia juga sangat pandai menulis dan berbicara dalam bahasa arab dan inggris. Cita-citanya? Amatlah tinggi. Ia hendak bersekolah di sekolah teknik di Bandung seperti Pak Habibie , kemudian hendak berlanjut pergi ke Amerika.

Alif sangat berapi-api menginginkan agar hal ini terwujud. Hingga akhirnya ia punΒ  lulus UMPTN dan dapat kuliah di Bandung.

Terinspirasi oleh tim dari negara Denmark, yang maju menembus rintangan. Alif pun berjuang dan saat ada kesempatan untuk pergi ke luar negeri , ia pun berupaya sekuat tenaga. Namun banyak sekali rintangan yang harus ia hadapai. Alif lelah dan mulai bertanya-tanya: “Berapa lama aku harus bersabar dalam menghadapi semua cobaan hidup?”

Alif pun teringat akan kalimat ‘man jadda wajada’ yang diajarkan di Pondok Madani: Terutama kalimat ”man shabara zhafara’, yang artinya Siapa yang bersabar akan beruntung .

Ranah 3 Warna

Bagi yang penasaran, bisa melihat trailernya terlebih dahulu

Pada trailer di atas, terlihat bahwa Alif sedang berjalan kaki dan kemudian mengambil daun khas negara Kanada .

Dari trailer tersebut juga terlihat bahwa pemeran utama yang berperan sebagai Alif adalah Arbani Yaziz, disertai pula oleh Amanda Rawles, Teuku Rasya, Maudy Koesnaedi, David Chalik.

 

Review film Ranah 3 Warna

Secara alur cerita masih setia mengikuti alur cerita bukunya. Menarik untuk dilihat adalah semangat yang diusung pada film ini, yaitu pantang menyerah, serta semua ada proses dan waktunya.

Baca Juga:  David Dastmalchian Bergabung dengan Keira Knightley di Film Boston Strangler

Sekiranya ini relevan bagi kaum muda saat ini, yang mengalami masa semua serba cepat dan instant, sehingga mungkin terlupa bahwa ada proses , perjuangan bahkan doa untuk mencapai suatu tujuan. Bahkan terkadang Allah yang paling mengetahui dan paling memahami apa yang cocok bagi diri pribadi seorang manusia.

Nuansa religi Islam memang terasa kental pada film ini, dan membuat film ini menjadi sedikit segmented. Namun nilai-nilai yang diusung, kiranya cocok untuk masa kini.

Menarik dalam film ini adalah bagaimana Indonesia , menempatkan diri di kalangan dunia Internasional tanpa kehilangan identitas budaya, adat istiadatnya. Ini terasa sangat kental dan diberi penekanan tersendiri .Sebagaimana Amanda Rawles berupaya menarikan tari piring, sebagaimana dapat disaksikan berikut ini

Selain itu pemandangan yang ditampilkan, mampu menimbulkan semangat kecintaan kepada Negeri, Agama dan Kepercayaan penonton yang menyaksikan film ini.