Review Film Love For Sale 2

455

Di 2018, pemikiran Andybachtiar Yusuf, isu tentang rasa kesepian yang kemudian ia tuangkan dalam film garapan ke-4 nya, Love For Sale sukses menuai hasil yang sangat manis di kancah perfilman tanah air. Mengetengahkan polemik cinta kompleks yang temanya sangat relevan dengan kehidupan urban masa kini, film drama dewasa rilisan Visinema Pictures itu sukses mengantarkan Gading Marten meraih Piala Citra untuk Aktor Terbaik dan juga melejitkan nama Della Dartyan si pemeran karakter Arini.

Tidak hanya itu saja,  Love For Sale juga menjadi salah satu film yang materinya menarik untuk diperbincangkan karena endingnya yang memancing rasa penasaran. Hal ini dikarenakan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di film pertamanya ini. Belum lagi perdebatan mengenai status karakter Arini yang dicap antagonis oleh banyak kalangan karena profesinya menyebabkan hancurnya perasaan.

Untungnya, hanya perlu waktu satu tahun, Andybachtiar Yusuf kembali dengan babak barunya, Love For Sale 2. Sebagai benang merah utama karakter ikonik yang dimainkan Della Dartyan, Arini masih menjadi karakter kuncinya, sedangkan cikal bakal yang menjadi ‘korbannya’ adalah pemuda berdarah Minang dan keluarganya.

Seperti ibu pada umumnya, Rosmaida (Ratna Riantiarno) memiliki harapan untuk melihat ketiga anaknya hidup layak dan bahagia. Sayangnya, ketiga anaknya kerap menentukan pilihan hidup yang bertentangan dengan kemauan Ros. Anandoyo “Ndoy” Tauhid Sikumbang (Ariyo Wahab), anak sulung kesayangan Ros, salah memilih istri. Sedangkan anak bungsu Ros, Yunus “Buncun” Tauhid Sikumbang (Bastian Steel), terjebak pergaulan bebas hingga harus menikah muda.

Situasi ini membuat harapan Ros tinggal bertaruh pada anak tengah keluarga Sikumbang, Indra “Ican” Tauhid Sikumbang (Adipati Dolken). Sayangnya, menikah bukanlah prioritas Ican. Tertekan akan desakan ibunya, demi menyenangkan hati Ros, Ican memutuskan untuk memesan calon menantu palsu lewat aplikasi Love.Inc. Datanglah Arini (Della Dartyan), yang diperkenalkan Ican sebagai mantan pacarnya zaman kuliah. Siapa sangka, keluarga Ican jadi lebih erat berkat Arini, tidak hanya Ros namun juga Ican sendiri. apakah rencana Ican berhasil? Akankah Rosmaida mencapai harapan sejatinya?

Baca Juga:  Cinemags edisi 224, Captain Marvel

Sudah barang tentu bakal lebih mudah bagi sang sineas semisal ia tinggal meneruskan landasan fundamental yang sudah disusunnya. Namun, apa lacur, sang sineas berani menempuh resiko dengan melakukan pertaruhan lebih besar. Lingkup keluarga menjadi tema utama kali ini.

Satu hal yang perlu digarisbawahi sebelumnya, sebagai sebuah sekuel, bagaimanapun juga, penilaian Love For Sale 2 tidak bisa lepas dengan perbandingan dengan film pertamanya. Sejatinya, kisah Love For Sale 2 sama sekali tidak berhubungan dengan film pertamanya. Sungguhpun demikian, sang sineas menyertakan adegan yang akan membuat audiens langsung teringat dengan Love For Sale.

Akan tetapi, harus ditekankan juga bahwa dikarenakan storyline dan fondasi konflik (sekarang hubungan cinta antar anggota keluarga-red) yang dihadirkan sang sineas di film keduanya ini punya nuansa yang lumayan kontras berbeda dengan film pertamanya. Meski, dari segi komposisi gambar, warna, dan alur ceritanya sama.

Jika nuansa sunyi dan hanya terfokus pada problema satu karakter lekat dengan film pertamanya, Love For Sale 2 lebih semarak dan kompleks. Hal ini dikarenakan perbedaan mencolok ‘korban’ Arini kali ini. Jika sebelumnya tokoh Richard adalah pebisnis muda yang tinggal sendirian jauh dari keluarganya, tokoh Ican meski tinggal sendiri namun sangat dekat dengan keluarga dan kerabat dekatnya.

Namun, faktor lebih semaraknya ini juga memberikan sedikit problematika tersendiri pada kualitas pengeksekusian sang sineas kali ini. Banyaknya karakter sentral yang harus mendapatkan sorotan menjadikan perguliran storylinenya tidak begitu halus, fokus konfliknya yang sempat mengabur dan sempat tumpang-tindih, beberapa karakter pendukung yang eksplorasinya kurang tergali baik dan malah terkesan tersia-siakan. Ada juga beberapa adegan yang seperti terkesan diburu-buru (salah satunya momen krusial interaksi awal Ican dengan Love.Inc).

Baca Juga:  Review Film The Guest - Thriller Ala Adam Wingard

Meski dengan beberapa kekurangan itu, untuk kategori sebuah sekuel, Love For Sale 2 masih terhitung sebagai sekuel yang efektif. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sekuel yang baik adalah yang mampu memberikan audiensnya skala yang lebih luas lagi dari apa yang sudah dihadirkan di film pertamanya. Dan, untuk aspek ini Love For Sale 2 berhasil.

Hal ini dikarenakan apa yang tersaji di dalamnya berhasil merambah dimensi yang lebih luas lagi. Baik itu melalui penuangan konfliknya yang lebih beragam dan eksplorasi karakter Arini yang lebih dalam lagi, seraya mulai membuka layer kemisteriusan karakternya secara perlahan. Sayangnya, entah disengaja ataukah tidak, sang sineas masih belum membuka tabir mengenai perusahaan Love.Inc yang misterius di film babak keduanya ini.

Sebagai penjalin benang merah, Della Dartyan sekali lagi mampu menunjukkan performa yang memuaskan sebagai Arini yang punya kualitas bunglon dalam menjalankan profesinya. Sementara, dari sisi performa karakter sentral film kedua ini, R Riantiarno sebagai Rosmaida tampil meyakinkan sebagai ibu yang terbuai harapan kehidupan ideal dan Yayu Unru yang berperan sebagai paman Ican.

Secara overall, walau dapat memberikan sajian drama dan shock therapy yang hampir sama seperti yang diberikan lewat film pertamanya, sayangnya secara kualitas pengeksekusian, Love For Sale 2 satu tingkat di bawahnya. Temanya yang diangkatnya memang lebih dekat namun nuansa spiritual yang dulu diwujudkan film pertamanya tidak lagi terasa.

Dari pelbagai aspek keseluruhan, Love For Sale 2  sekarang lebih terasa berkesan film komersial dibanding film pertamanya yang lebih cenderung art festival. Malah menurut penulis sendiri, perbedaan tone ini sempat mengesankan Love For Sale dan Love For Sale 2 terasa seperti dua film berbeda, bukan satu kesatuan saga cerita. Meski lambat laun seiring durasi kisahnya, kesan itu menguap.

Baca Juga:  “MOX” Aplikasi Film Indonesia Kini Sudah Meraih 1 Juta Pelanggan

Untungnya, film ini terselamatkan dengan performa apik Della, Riantiarno, dan Yayu Unru. Pun juga lewat adegan penutupnya yang dijamin akan membuat penggemar Love For Sale bersorak dan kembali melambung ekspektasinya untuk babak selanjutnya. Love For Sale 2 yang mengusung tagline The Most Horror Love Story mulai tayang di bioskop tanggal 31 Oktober 2019.

 

 

 

 

 

 

 




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.