Review Film Injustice

407

Injustice adalah film animasi lini adiwira DC terbaru rilisan Warner Bros. Sesuai dengan judulnya, film animasi ini plotnya diambil dari storyline seri video game laris Injustice, yang kemudian dibuatkan versi komiknya.

Sekarang, lewat arahan Matt Peters yang sebelumnya membesut Justice League Dark: Apocalypse War, kisah yang mengetengahkan dunia alternatif di jagat DC ini hadir di format tontonan. Film animasi ini dibintangi oleh Justin Hartley, Anson Mount, Laura Bailey, Janet Varney, Zach Callison, dan Anika Noni Rose sebagai pengisi suara karakternya.

Di Bumi alternatif, Superman tengah berbahagia karena kekasihnya Lois Lane tengah mengandung. Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Karena ulah tipu daya Joker dan Harley Quinn, Superman harus menanggung penderitaan kehilangan tidak hanya Lois dan bayi yang tengah dikandungnya, namun juga kota Metropolis yang menjadi rata dengan tanah. Ketika di luar dugaan siapapun, bahkanΒ  Batman, usut punya usut penjahat dua sejoli ini menyasar psikologis Superman sebagai sasaran skema jahat mereka kali ini.

Kehilangan kendali, Superman kemudian membunuh Joker dan bertekad untuk melakukan segala cara untuk mencegah adanya kembali korban nyawa yang jatuh, jika perlu bertindak tidak ubahnya seorang diktator Bumi. Melihat gelagat buruk, Batman memperingati Superman agar tidak bertindak terlalu jauh, namun upayanya sia-sia. Dari sinilah bermula konflik besar antara tim Justice League yang pecah dalam dua kubu, kubu Superman melawan kubu Batman yang memakan korban nyawa di kedua belah pihak.

Secara de facto, Injustice adalah kisah tentang peperangan besar antara kubu Batman dan kubu Superman akibat kematian Lois, itulah garis besar plot yang dikedepankannya di versi game dan komiknya. Berkenaan dengan sajian di film, jika dibandingkan, sudah tentu, penuangan di dua versi sebelumnya jauh lebih kompleks. Namun, di penuangan film ini alur kisahnya meski skalanya lebih generik, bisa dibilang kisahnya berhasil mengalir dengan baik.

Baca Juga:  Review Film Ghostbusters: Afterlife

Sesuai dengan materi aslinya, tone kisah Injustice sangat dark, dengan sarat adegan pembunuhan dan kematian brutal banyak karakter. Namun, meski secara spirit sama, harus digarisbawahi dulu, sebelum memutuskan untuk menontonnya, bagi yang menyukai game maupun seri komiknya kesampingkan jauh-jauh storyline Injustice tersebut, karena sajian Peters di sini memiliki penceritaan yang secara signifikan sangat berbeda. Baik, itu berkenaan dengan perkembangan plot, peranan serta nasib yang banyak karakternya, pun juga penghilangan banyak karakter yang di penuangan-penuangan sebelumnya notabene punya peranan penting.

Satu hal yang menjadi keunggulan film ini adalah porsi aksinya. Ada pelbagai adegan aksi termasuk pelbagai kombinasi karakter dan semuanya dieksekusi dengan baik. Kekuatan Superman yang sesungguhnya tergambarkan dengan kuat, ada sekuens pertarungan sengit antara karakter non superhuman yang lumayan impresif dan pertarungan klimaks antara banyak karakter yang menunjukkan kekacauan luar biasa. Satu hal yang benar-benar dijual film ini adalah betapa berbahayanya Superman ketika kekuatannya tidak terkendali tetapi dikecewakan oleh pelbagai kekurangan dalam jalinan penceritaannya.

Hanya berdurasi kurang dari satu setengah jam (hanya 78 menit-red), apabila ditinjau sebagai sebuah standalone orisinal, walaupun terasa filmnya ibarat kekurangan waktu untuk memaparkan sempurna apa yang lewat ceritanya coba ditawarkan, Injustice lumayan impresif. Cerita dan perkembangannya menarik. Film ini juga memiliki beberapa adegan memorablenya sendiri. Namun, jika ditinjau sebagai hasil adaptasi, yang rasanya menjadi ekspektasi awal banyak fans berkenaan dengan judul ini, garapan Peters kali ini pasti banyak yang merasa kecewa.

 

Film Injustice bisa disaksikan secara on demand di sini, sedangkan paket DVD, Bluray, dan Bluray Steelbook nya sudah bisa dipesan sekarang.