Review Film Inheritance

1256

Sesuai dengan judulnya, Inheritance adalah inti dari film ini. Intrik, sensasi, misteri, dan twist yang bisa jadi akan membuat Anda penasaran. Rahasia, kebohongan, dan misteri tersembunyi yang dikedepankannya di atas kertas meninggalkan impresi awal yang lumayan menarik.

Film yang tadinya akan diputar perdana di Tribeca Film Festival 2020 yang sayangnya harus ditunda karena pendemi ini merupakan debut penulisan naskah film Matthew Kennedy dan disutradarai Vaughn Stein (Terminal). Lily Collins dan Simon Pegg menjadi duo ujungtombak utamanya, bersama dengan para pemeran pendukung Patrick Warburton, Connie Nielsen, Chance Crawford, dan Marque Richardson.

Dalam Inheritance, miliarder Arthur Monroe (P.Waburton) yang tewas secara misterius hanya meninggalkan warisan senilai $1 juta saja pada putri sulungnya seorang pengacara muda bernama Lauren (L.Collins),namun pada adik laki-lakinya, politikus yang mencoba mencalonkan diri lagi menjadi anggota kongres mendapatkan $25 juta.

Namun, setelah pembacaan surat warisan itu, pengacara keluarga Monroe menemui Lauren dan memberikan wasiat lain yang membuat pengacara muda itu harus terlibat dalam proses pengungkapan misteri yang sudah dipendam lama oleh sang ayah semasa hidupnya. Pasalnya, sang ayah diam-diam memiliki ruangan bawah tanah dan di sana terbelenggu seorang pria misterius yang kini menjadi beban Lauren untuk tidak hanya mencari tahu siapa sosok pria tersebut namun juga motif sang ayah melakukan hal itu.

Sepintas premis yang dikedepankan dalam film ini mungkin akan mengingatkan pada Knives Out garapan sineas Rian Johnson yang sama-sama mengetengahkan tema yang sama yakni warisan. Bedanya, jika Knives Out berbentuk komedi whodunnit, Inheritance ditujukan sebagai film thriller menegangkan.

Jika sajian Knives Out cenderung ringan, tema yang lebih berat disuguhkan dalam di sini. Inheritance berkecimpung dalam beberapa tema yang lebih berat, tanpa mengorbankan plotnya yang sebenarnya dangkal. Film ini menawarkan kritik tajam terhadap kekayaan yang berbanding lurus dengan dinamika keluarga dan beban harapan.

Baca Juga:  Konten Unggulan Baru di Facebook Watch

Alih-alih menarik garis sederhana “kekuasaan korup,” kita mendapatkan eksplorasi kekuasaan yang lebih canggih dan cerdas. Ini menunjukkan bagaimana kekuatan dapat mengubah individu yang karakternya paling mulia sekalipun. Garis benar dan salah dikaburkan ke dalam teka-teki yang lebih menyenangkan dari “apa yang benar untuk saya dan saya sendiri”? Hal ini membuat Inheritance semestinya lebih menarik daripada film lain yang mengusung tema yang sama.

Untungnya, film ini masih agak tertolong berkat penampilan dua bintang utamanya yang lumayan bermain baik. Lily Collins mampu tampil solid meski karakter yang dimainkannya notabene kurang mengalami perkembangan ataupun latar yang cukup kuat alasannya dalam di film ini.

Sementara, Simon Pegg yang memerankan karakter yang bisa dikatakan sebagai penggerak konfliknya dapat melakoni peran dramatis dengan cukup meyakinkan dan bisa memberi warna tersendiri, meski tentu saja aktor asal Inggris ini tetap lebih cocok untuk tetap bertahan di peran-peran bertema komedi saja.

Secara keseluruhan,Inheritance sebenarnya memiliki premis kisah yang lumayan menarik. Namun, apa lacur, pengeksekusian yang disajikan oleh Stein menodainya. Penggarapannya terkesan terburu-buru yang membuat potensi twist yang dimilikinya kurang tergarap maksimal.

Masalah terbesar yang ada di film ini, penuturan cerita yang di film ini terasa sedikit terlalu panjang. Dengan durasi lebih dari 110 menit. Sajian film ini agak terseok-seok untuk menahan perhatian audiensnya untuk tetap fokus hingga akhir. Namun, bagi kalangan yang menyukai film dengan gaya penuturan semacam ini, tidak ada salahnya untuk menjadikan film yang tayang di Netflix ini sebagai alternatif pilihan.

 




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.