Review Film Halloween Kills

484

Film Halloween Kills adalah babak kedua dari saga reboot Halloween yang disutradarai oleh David Gordon Green. Menilik sedikit ke belakang, pada tahun 2018, Green sukses menghidupkan kembali franchise Halloween, pasca rumah produksi Blumhouse menjadi pemilik baru hak cipta IP itu setelah pemilik sebelumnya Dimension Films kehilangan haknya karena gagal menindaklanjuti saga Halloweennya (Rob Zombie timeline -red).

Dengan keterlibatan langsung John Carpenter yang sejatinya tidak menyukai penggambaran Michael Myers versi Rob Zombie, Green dan timnya menghasilkan installment yang berfungsi sebagai sekuel langsung dari film orisinalnya. Installment ini lebih mengerikan dari sebelum-sebelumnya sekaligus mengapus semua kekacauan timeline bercabang yang sudah ada. Seperti kita tahu, upaya itu sukses dan perencanaan saga trilogi baru Halloween kemudian dijalankan, dengan pencetusan Halloween Kills ini, yang bakal dilanjutkan dengan Halloween Ends, sebagai babak penutupnya.

Kembali kepada Halloween Kills, film babak kedua ini adalah kelanjutan langsung kejadian film sebelumnya. Dikisahkan Laurie Strode bersama putri dan cucunya berhasil kabur setelah berhasil menjebak Myers agar mati terbakar hidup hidup di rumahnya. Sayangnya, tim damkar yang bertugas memadamkan api, malah membuat Myers bebas dan meneruskan perburuannya terhadap Laurie, sambil menambah panjang jumlah kematian di sepanjang langkahnya.

Terluka dan dibawa ke rumah sakit, Laurie berjuang melalui rasa sakit saat ia menginspirasi penduduk Haddonfield, Illinois, untuk bangkit melawan Myers. Berusaha menangani sendiri, para wanita Strode dan penyintas lainnya membentuk grup vigilante untuk memburu Michael dan mengakhiri aksi terornya untuk selamanya.

Halloween Kills sejatinya merupakan fans service untuk fans film aslinya. Hampir setiap aktor yang memerankan seseorang yang masih hidup pada akhir film 1978 muncul, pun juga dengan beberapa easter egg dari babak-babak sebelumnya. Green juga menghadirkan beberapa tambahan adegan kilas balik tahun 1978 yang berfungsi sebagai filler timeline baru saga reboot ini dengan film lamanya tersebut.

Baca Juga:  ‘ONE PLACE, DIFFERENT SPACE’ PEMENANG VIDDSEE JUREE AWARDS INDONESIA 2021

Dari segi naskah, sekali lagi, untuk kesekian kalinya, Halloween Kills bisa dikatakan tidak ubahnya repetisi dari installmet-installment lanjutan dari franchise Halloween sebelumnya. Walaupun notabene ada plot yang dikedepankan di sini, yakni bagaimana reaksi warga Haddonfield dalam menyikapi informasi bahwa horor yang tengah mereka hadapi masih berlanjut, sineas Green tidak menjadikan hal itu jualan utamanya.

Jadi ajang perwujudan impian lamanya akan gambaran film slasher idealnya, di Halloween Kills, sang sineas benar-benar mengeksploitasi kadar kekerasan yang ada di sini. Akibatnya, secara penceritaan dan pergerakan cerita harus diakui sangat terbilang stagnan, meski sayangnya jika merujuk pada sesi interview sang sineas, itu memang disengaja. Jadi, apa mau dikata rasanya tidak perlu repot-repot untuk mempermasalahkan perihal plot substansial di sini, karena tidak ada gunanya.

Sekarang, faktor penentunya tinggal terletak pada audiensnya sendiri. Apakah merasa keputusan arahan Green di sini merupakan sebuah pengkhianatan atau justru penghormatan tinggi pada root franchisenya apakah tidak? Penulis sendiri mengakui bukan penyuka saga ini meski sudah menonton banyak installment franchise ini. Dan, butuh perjuangan yang sangat berat menyaksikan adegan-adegannya, yang mana jika merujuk pada statemen sang sineas mengenai tujuan yang ingin dicapainya dalam Kills, yakni mengedepankan “violence became a character”, ia berhasil.  Sebagai penutup, dengan barometer ketahanan pribadi dalam menyaksikan kadar gore dalam film, Halloween Kills rasanya masuk dalam kategori kelas berat sajian gore slasher dari banyak film dengan jualan sama yang hadir di tahun ini.

Halloween Kills bisa disaksikan di bioskop tanah air mulai 20 Oktober 2021