Review Film God Help the Girl

Review Film God Help the Girl – Ringan, Manis, dan Menghibur

1650

Review Film God Help the Girl

Semuanya berawal dari tahun 2005, ketika Stuart Murdoch, pentolan grup band indie asal Skotlandia, Belle and Sebastian mendapatkan ide tentang sejumlah tembang yang cukup berbeda style dengan grup musiknya ketika sedang berolahraga lari. Beruntun menuntun pada terciptanya sejumlah lagu apik lainnya, rangkaian tembang ini lantas menjelma menjadi sebuah cerita, dan lahirlah tokoh Eve, James, dan Cassie yang membuat Murdoch yakin bahwa ia ingin menciptakan sebuah film musikal. Berkebalikan dengan Belle and Sebastian yang didominasi pria, pada tahun 2007 Murdoch mulai mencari penyanyi-penyanyi wanita sebagai vokalis utama proyek ini, dan dengan dukungan produser Bary Mendel (The Sixth Sense, The Royal Tenenbaums), album bertajuk God Help The Girl akhirnya terwujud pada tahun 2009. Sementara, proyek filmnya yang sekaligus menjadi kiprah penulisan dan penyutradaraan perdana bagi Murdoch sendiri sukses terealisasi berkat situs Kickstarter yang berhasil menggalang dana sebesar $121.084 dari gol $100.000 yang menjadi target semula mereka.

“If you gotta grow up, sometime, you have to do it on your own…” Demikianlah penggalan tembang Act Of The Apostle yang dilantunkan Eve (Browning), gadis penderita anoreksia nervosa, seraya melarikan diri dari rumah sakit psikiatri tempatnya dirawat. Menikmati musik sebagai caranya untuk mengobati diri sendiri, Eve yang bersuara emas dan piawai menggubah lagu ini lantas bertemu dan menjalin persahabatan dengan James (Alexander) dan Cassie (Murray), dua musisi pemula yang juga punya cara sendiri-sendiri dalam menjalani hidup. Melalui lantunan melodi dan waktu yang mereka habiskan bersama, ketiganya lantas belajar akan arti persahabatan, cinta, dan mimpi dalam menyongsong kedewasaan.

Ringan, manis, dan menghibur, God Help the Girl memang tidak menghadirkan perenungan atau cerita yang berat, melainkan lebih dikemas seperti sebuah film remaja yang menyenangkan untuk dinikmati. Rasanya wajar jika sebagian pihak merasa durasinya terlalu panjang untuk sebuah cerita yang terbilang sederhana, belum lagi dengan kisahnya yang dinilai dangkal, terkadang konyol, dan memiliki cara penyampaiannya sendiri yang mungkin unik, tidak konsisten, dan mungkin aneh, karena seperti musik-musik Belle and Sebastian sendiri, film yang diinspirasi dari gerakan French New Wave, awal post-punk dalam dunia musik, film-film pop tahun 1970 dan 80an, dan bahkan hingga komedi-komedi British Bruce Robinson dan John Hughes hingga kota Glasgow sendiri yang menjadi setting-nya ini mengambil napas musik indie, di mana meski mempertahankan idealisme masing-masing, gaung mereka masih tetap dapat terdengar, setidaknya oleh kalangan tertentu.

Baca Juga:  6 tips FB untuk melindungi diri dari misinformasi tentang COVID-19