Review Film Deadpool - Slitting The Franchise One Movie At a Time

Review Film Deadpool – Slitting The Franchise One Movie At a Time

449

Review Film Deadpool - Slitting The Franchise One Movie At a Time

Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags untuk lomba review film Deadpool dan sama sekali tidak mencerminkan pandangan editorial Cinemags. Anda juga bisa ikut serta dalam lomba review film Deadpool di sini.

linebreak

Note: spoiler alert!

Semua orang mungkin sudah familiar dengan kegarangan Wolverine, kehebatan Cyclops, atau kecerdikan Mystique. Kini X-Men Universe kedatangan seorang jagoan yang  memberikan warna baru pada franchise milik FOX tersebut. Dengan kekonyolan dan sifat-sifat unik yang dibawanya, Deadpool menjadi seorang anti-hero yang pas untuk mengimbangi kegagahan superhero-superhero lain di franchise ini.

Semua berawal ketika Wade Wilson (Ryan Reynolds), seorang mantan anggota pasukan khusus didiagnosa mengidap kanker yang memaksanya meninggalkan sang kekasih, Vanessa (Morena Baccarin), untuk menerima tawaran pengobatan kanker dari seorang agen rahasia. Namun siapa sangka, alih-alih disembuhkan dari kanker, Wade dijadikan objek percobaan yang dikomandoi oleh Ajax (Ed Skrein), dan asistennya Angel Dust (Gina Carrano).

Percobaan ini merenggut kondisi fisik Wade yang kini hancur dan nyaris tak dapat dikenali, walaupun dirinya kini memiliki sebuah kekuatan a la mutan X-Men, regenerasi. Dengan kekuatan ini, Wade dibantu sahabatnya, Weasel (TJ Miller), serta 2 anggota X-Men, Colossus dan Negasonic Teenage Warhead (Briana Hildebrand) mencoba melacak keberadaan Ajax dan Angel Dust demi membalaskan dendamnya.

Debut Tim Miller sebagai sutradara patut diacungi jempol. Kecintaannya terhadap komik pahlawan super terlihat jelas pada film ini. Karakter Deadpool yang nyeleneh dan absurd dalam versi komik, direpresentasikan dengan sempurna pada versi layar lebar. Kredit juga wajib disematkan untuk sang aktor utama, Ryan Reynolds, yang sepertinya memang terlahir untuk karakter Deadpool. Dialog-dialog lucu dan kasar disampaikan Reynolds seolah-olah langsung keluar dari mulutnya, bukan datang dari meja para writer, yang tentu saja harus mendapat kredit juga karena penulisan yang brilian. Adegan-adegan aksi yang brutal juga menjadi kekuatan di film ini. Mulai dari aksi lewat senjata api, katana, koreografi tangan kosong, hingga aksi sadis seperti menebas kepala dan membelah tubuh menjadi dua bagian akan membuat kita berdecak kagum, brutal namun realistis.

Baca Juga:  6 tips FB untuk melindungi diri dari misinformasi tentang COVID-19

Deadpool jauh dari karakter seorang pahlawan super yang selama ini diagung-agungkan oleh Hollywood dengan kekayaan serta ketauladanan sifat-sifatnya sebagai pahlawan. Kata-kata kasar dan makian yang meluncur deras dari mulutnya, hingga keseharian layaknya orang biasa membuat karakter Deadpool membuka mata kita terhadap dimensi baru seorang pahlawan super yang belum pernah di eksplorasi oleh Hollywood sebelumnya. Keunikan lain yang membedakan Deadpool dengan pahlawan super lain adalah self-awareness, alias Deadpool sadar bahwa dirinya adalah tokoh fiksi dalam sebuah film. Seringkali dirinya berbincang kepada kita, para penonton, mengenai adegan yang sedang terjadi. Unik, bukan?

Penantian tujuh tahun semenjak kegagalan penampilan pertama Deadpool di film X-Men Origins: Wolverine nampaknya terbayar lunas dengan kehebatan film ini. Deadpool bukanlah film superhero terbaik sepanjang masa, namun yang pasti Deadpool adalah film superhero paling unik yang pernah kita dapatkan.