Review Film The Conjuring: Enfield Poltergeist – Ketika James Wan Menebar Rasa Takut

636

Review Film The Conjuring: Enfield Poltergeist

Spoiler Alert!

Tepuk tangan sekali lagi untuk James Wan! Seringnya, sebuah sekuel dari film-film yang sukses secara kritik menemui kendala besar dalam usahanya melampaui atau bahkan menyamai pencapaian yang telah didapatkan dari film pertamanya. Terhitung hanya beberapa di antaranya yang berhasil lepas dari belenggu tersebut, terlebih lagi mengarah kepada ranah horor, karena tentu bukan menjadi pekerjaan yang mudah untuk bisa menciptakan trik jump scare yang tak hanya mengulangi formula yang sudah dipakai pada predecessor-nya demi memenuhi kebutuhan penonton. Dengan sedikitnya peluang untuk memperoleh sajian horor yang memiliki taraf jempolan, lantas ada sedikit keraguan terhadap The Conjuring 2—sungguhpun James Wan kembali memegang tampuk penyutradaraannya—apalagi bagi yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan film pertamanya. Apa mau dikata, babak pertamanya yang sudah diakui sebagai salah satu film memedi terbaik dan terseram dalam beberapa dekade terakhir ini membuat besar kecil kemungkinan bagi sekuelnya untuk kembali menyandang predikat tersebut.

Alhasil, tak disangka petualangan supranatural pasangan Warren ini masih sukses memberi teror yang sama menyeramkan dengan pendahulunya. Kemampuan Wan mengolah konsep klasiknya menjadi sajian penuh sensasi ketakutan dengan pengambilan sudut-sudut yang dinamis adalah mengapa horror-horor miliknya selalu berhasil menghadirkan jeritan nyaring di gedung bioskop. Ia tahu benar bagaimana membangun atmosfer creepy lewat setiap sudut rumah keluarga Hodgson, menghadirkan nuansa keseraman dari setiap ruangan yang gelap, membiarkan imajinasi penontonnya bergerak liar melihat sesuatu yang tak tampak dengan iringan-iringan scoring penyayat nyali dari Joseph Bishara, dan sinematografi dari Don Burgess yang sukses memainkan visualnya dengan sangat brilian, hingga hentakan jump scare di saat yang selalu tepat membuat teriakan keras tak terelakkan lagi.

Sejak awal bergulirnya cerita, audiens sudah mulai diperlihatkan sedikit demi sedikit teror tak kasat mata, mulai dari mobil-mobilan pemadam kebakaran yang berjalan sendiri, meja yang terdorong keras di depan mata, dan tempat tidur yang bergoyang, sampai pada pertengahan durasi filmnya, momok seram tersebut sedemikian sering diperlihatkan wujudnya, bahkan—tidak seperti pada horor kebanyakan yang hanya mengandalkan situasi sepi untuk memunculkan sosok hantunya—dalam keadaan ramai pun sang momok berani menunjukkan keganasannya. Pada momen tersebutlah, seketika ada muncul perasaan “mulai terbiasa” ketika intensitas keseraman yang dihadirkan bertubi-tubi, alih-alih membuat para audiens tak tenang, melainkan malah membuat berani membelalakkan mata karena rasa penasaran yang tinggi. Pun begitu, di balik ketenangan tersebut, selalu ada adegan penggedor jantung yang tak terprediksi kemunculannya, dan sukses membuat audiens jera untuk memfokuskan pandangannya ke layar.

Baca Juga:  David F. Sandberg akan Kembali Mengarahkan Film Horor Melalui Proyek The Culling

Sumber kekuatan The Conjuring 2 pun tidak hanya datang dari sentuhan dingin sang sineas dalam memberikan rasa takut, namun juga bagaimana film ini mencoba tampil lebih kompleks dengan selipan drama yang lebih sentimental. Di beberapa momen, alunan ceritanya sempat berjalan menjadi lambat saat audiens diajak mengenal lebih jauh pasangan Warren, namun tidak lantas terjerembab menjadi tuturan yang membosankan, sampai akhirnya kembali pada titik mendebarkan dengan pace yang berjalan cukup cepat. Di sinilah nilai lebih yang pantas disematkan untuk Wan, di mana ia mencoba mempertebal sisi kemanusiaan dan nuansa dramatik untuk memberikan ikatan yang kuat antara audiens dengan jajaran karakter di dalam filmnya, di mana audiens dibuat seolah-olah mengenal baik pasangan Warren sehingga muncul rasa simpati yang mendalam untuk mereka. Terlebih lagi, intensitas hubungan antara Ed dan Lorraine yang kali ini semakin digali lebih mendalam, tentang seberapa besar perjuangan mereka untuk saling melindungi satu sama lain, serta tidak melulu berfokus pada keluarga Hodgson dan rumah berhantunya, namun juga melibatkan kehidupan pribadi pasangan Warren yang nantinya berimplikasi pada keseluruhan cerita. Tepuk tangan juga patut diberikan untuk para pelakon utama di filmnya yang mampu memberi kontribusi akting menawan dalam menghidupkan karakter masing-masing, khususnya bagi Patrick Wilson dan Vera Farmiga yang dalam kali keduanya ini ibarat makin melebur sebagai karakter pasangan Warren dan membentuk chemistry yang lebih kuat lagi dari sebelumnya.