Review Film Bohemian Rhapsody

692

Di jagat musik dunia, Queen merupakan salah satu yang paling legendaris. band asal Inggris ini memberikan warisan sangat signifikan berupa tembang-tembang hits beraliran rock kontemporer seperti Radio Ga Ga, Love of My Life,  We Are the Champions, We Will Rock You, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, khususnya dalam genre hard rock sendiri, Queen diakui sebagai pemberi pengaruh bagi banyak musisi dunia maupun band populer pelbagai generasi.

Berbicara mengenai Queen, tentu saja aspek yang paling menonjol adalah mengenai motor dari band itu sendiri, vokalis berkarisma luar biasa, Freddie Mercury. Datang dari latar belakang eksotis, belum lagi memiliki perjalanan karier dan sisi kontroversial, tak pelak kisah hidup sang vokalis adalah bahan yang sangat menarik untuk diangkat ke layar lebar.

Sungguhpun demikian, perjalanan untuk mewujudkannya sangatlah berliku. Tidak kurang delapan tahun dibutuhkan pihak kreator sebelum bisa merealisasikannya dalam film yang mengusung judul dari tembang hits paling populernya ini, di mana dalam prosesnya, juga diwarnai dengan tahap bongkar pasang, baik di jajaran pemain (awalnya proyek Sacha Baron Cohen menjadi Rami Malek) maupun bangku penyutradaraan yang awalnya dibesut oleh Bryan Singer namun menjelang usai digantikan Dexter Fletcher (Eddie the Eagle), meski kredit tetap diberikan pada Singer.

Bohemian Rhapsody sejatinya berkisah tentang Freddie Mercury dan sepak terjang band Queen. Diawali dengan bagaimana seorang pemuda London berdarah Zanzibar bernama Farrokh Bulsara yang nantinya dikenal sebagai Freddie Mercury berjumpa dengan Brian May dan Roger Taylor, sisa band Smile yang baru ditinggal vokalis lamanya. Dari situ, dengan tambahan personel John Deacon, terbentuklah band baru bernama Queen.

Banyak melakukan eksperimen dalam penuangan musik mereka, tampil anti mainstream Queen berbuahkan kesuksesan, yang membuat mereka kemudian dikenal sebagai band kelas dunia paling sukses sepanjang masa. Di sisi lain sisi kontroversial Freddie mulai membawa tantangan tersendiri pada kelangsungan band asal Inggris tersebut.

Baca Juga:  Review Film Teen Titans Go! to the Movies

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Bohemian Rhapsody tampil tak ubahnya formula stereotipe film biopic pada umumnya, dengan menampilkan banyak event besar kehidupan Queen dan Freddie, dengan puncak penampilan mereka di konser Live Aid 1985. Dari rumusan skrip yang disusun Anthony McCarten (Darkest Hour) dan Peter Morgan (The Crown) ini, Bohemian Rhapsody mampu menampilkan kinerja apik dalam menghadirkan kisah yang mudah diikuti mengenai bagaimana awal mula keterkenalan mereka, perpecahan, dan terbentuknya kembali band Queen.

Sebagian besar isi film berfokus pada perjalanan hidup Freddie, sehingga pada akhirnya berimbas pada kurangnya porsi pada anggota Queen yang lain. Tentu saja aspek ini patut menjadi perhatian tersendiri, karena faktanya, Brian May dan Roger Taylor asli turun tangan langsung sebagai konsultan kreatif di film ini. Pasalnya, bisa dikatakan nilai minus kurangnya sorotan peranan mereka yang terlihat di film ini adalah kesalahan keduanya. Atau, boleh jadi ini disengaja sebagai wujud penghormatan pada sahabat mereka tersebut dengan lebih menitikberatkan pada drama personal sang vokalis.

Dari segi jajaran pemainnya, penampilan Rami Malek sebagai Freddie Mercury sudah tentu merupakan highlight paling besar dari film ini, meski tambahan dandanan artificial yang dikenakannya kentara kurang meyakinkan. Sayangnya, karena sorotan filmnya yang memang mengarah pada karakter Freddie, jajaran pemain lainnya jadi terlihat kurang menonjol dan sedikit tersia-siakan, tidak terkecuali pada karakter Mary Austin, gadis yang menjalin hubungan kompleks dengan Freddie, yang dimainkan Lucy Boynton.

Adapun kekurangan yang paling menjadi sorotan banyak pihak adalah gaya penyajian yang dipilih sang sineas. Digarap secara stylish, visual Bohemian Rhapsody harus diakui memanja mata, dengan bertaburannya montase cepat event besar Queen, namun di sisi lain tidak menambah pengaruh besar pada naratif cerita. Begitupula pada penuangan durasi panjang penampilan panggung Queen di Live Aid menjelang pengujung film.

Baca Juga:  Review Film Indie Game - Perjalanan Berliku Developer Game Independen

Pasalnya, pilihan ini menyebabkan elemen-elemen kehidupan Freddie yang lebih menarik seperti penggambaran kecenderungan seksualitas Freddie, gaya hidup pribadinya, dan bagaimana ia bisa terjangkit AIDS tidak tertuang dengan baik, menjurus mengecewakan. Bohemian Rhapsody juga kurang berhasil menuangkan bagaimana intrik identitas yang dijalani Freddie sebagai penyuka sesama jenis dan kacaunya hubungan ia dengan manajer pribadinya, Paul Prenter (Allen Leech).

Secara keseluruhan, sebagai satu paket tontonan, Bohemian Rhapsody bukanlah sajian yang buruk, namun yang pasti ia berada di tengah-tengah kebanyakan film biopic rilisan Hollywood lainnya. Namun untuk ukuran standar bagaimana gebrakan seni yang ditampilkan Queen dan keantikkan Freddie Mercury, film ini masih terlalu bermain aman dan kurang cukup magis untuk bisa menarik hati kalangan yang sudah sering menyaksikan banyak film biopic berkualitas.

 

 




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.