Review Film Bloodshot

2112

Sejak Marvel berhasil mengembuskan tren baru sinema, yakni menjalin sharing universe, banyak studio berusaha mengikuti jejaknya, menciptakan jagat sinemanya sendiri. Kita pun kemudian mengenal, adanya DCEU, Star Wars Universe, X-Men Universe, MonsterUniverse, DarkUniverse, dan SpiderUniverse.

Berbicara mengenai sharing universe, tidak bisa dipungkiri kalau hal ini nyatanya memang ampuh memancing animo tinggi para penikmat film. Pasalnya, siapa yang tidak penasaran melihat tokoh-tokoh komersialitas tinggi secara individu / solo dipertemukan dalam satu layar.

Akan tetapi, mungkin ada satu hal yang luput disadari oleh para pemilik semesta film. Yakni, faktor penjalin kisah  dan bagaimana nantinya perkembangan untuk menjadikan sharing universe terlihat solid. Karena, jika yang terjadi adalah kebalikannya, hasilnya adalah kegagalan. Atau lebih parah lagi, layu sebelum berkembang. Celakanya, sejarah membuktikan kebanyakan sharing universe hasilnya tidak memuaskan.

Untuk tahun 2020 ini, selain dirilisnya babak-babak baru dari jagat-jagat film yang sudah ada, upaya jagat sinema baru mulai diperkenalkan Sony Pictures. Selain giat mewujudkan SpiderUniverse dengan memproduksi film-film spinoff  dari saga komik Spider-Man, Sony telah membeli hak cipta beberapa IP dari Valiant Comics dan mencanangkan akan menghadirkan lima film langsung dari IP tersebut.

Maka, hadirlah Bloodshot, installment pertama sekaligus ditujukan sebagai fondasi awal jagat film adaptasi komik terbitan Valiant. Film ini memasang aktor laga Vin Diesel yang tidak lama lagi juga akan muncul meneruskan peran ikonik Dominic Toretto di saga Fast and Furious.

Dalam Bloodshot dikisahkan, seorang anggota marinir bernama Ray Garrisonmengalami nasib naas. Serangan kelompok separatis bersenjata menewaskan sang istri dan juga dirinya. Untungnya, berkat upaya ilmuwan Dr. Emil Harting membuat Ray hidup kembali sebagai manusia super dengan teknologi nano di tubuhnya. Dengan kekuatan barunya ini, Ray mulai menyusun aksi balas dendam atas peristiwa tragis yang menimpa dirinya. Namun, belakangan terungkap apa yang terjadi sebenarnya tidak sesederhana apa yang tampak di permukaan.

Baca Juga:  A Perfect Fit review

Film garapan sineas debutan David S. F. Wilson ini ceritanya disusun oleh Jeff Wadlow bersama EricHeiserrer. Dari jalinan kisahnya, ibarat menyaksikan kisah RoboCop, Universal Soldier, dan Wanted yang diramu menjadi satu.

Awal kisahnya terbilang sangat klise yang mungkin akan membuat rasa ketertarikan pada film ini sedikit menurun. Namun, dengan twist yang tidak terlalu buruk, sajian film ini cukup memberikan perkembangan kisah yang lumayan menggelitik dengan bumbu konspirasinya.

Aksinya juga layak mendapat apresiasi. Meski kentara benar bahwa film ini diproduksi dengan bujet yang terhitung minim, adegan-adegan aksinya bisa dikatakan tergarap baik dan bahkan salah satu di antaranya, mampu menyuguhkan adegan yang stylish dan jadi highlight paling menarik.

Sayangnya, kendala mengenai kepemilikan hak cipta sebagian lagi dari IP Valiant Comic yang dimiliki Paramount meliputi Harbinger, jelas berdampak pada sajian ini. Untuk ukuran film batu penjuru sebuah cikal bakal jagat film, Bloodshot malah terkesan sebagai film standalone.

Tidak ada informasi yang bisa menstimulus penonton untuk menantikan babak lanjutannya. Padahal, untuk kelangsungan sebuah jagat film, apalagi dari IP yang masih sangat asing, faktor ini sangatlah krusial. Karena, sebagian besar publik bisa dipastikan tidak tahu menahu mengenai Valiant Universe, yang mana ini bisa dijadikan keuntungan tersendiri.

Dari segi performa akting, selain performa Vin Diesel, film ini sedikit tertolong oleh penampilan aktor komedian Lamorne Morris yang mampu menjadi scene stealer. Juga mengabaikan karakter-karakter lainnya, bahkan kepada satu-dua karakter  potensial sebagai magnet penonton, seperti KT dan Dr. Emil Harting –red) sangat disayangkan, menjadikan Bloodshot tidak ubahnya film aksi medioker dengan bintang Vin Diesel semata.

Yang secara keseluruhan tidak jauh berbeda dengan tipikal film-film yang dibintanginya. Sarat aksi namun rapuh di segi penceritaannya.

Baca Juga:  Tayangkan serial Ramy Lionsgate Play Indonesia optimis akan hibur penonton

Sebagai kepingan awal Valiant Universe,  Bloodshot belum meyakinkan dalam menunaikan misinya sebagai batu penjuru sebuah jagat sinema. Baik itu memberikan kesan pertama yang impresif maupun menarik minat penonton pada universe ini seraya membangun fondasi yang kuat untuk keping-keping lanjutannya. Semoga saja babak selanjutnya dari franchise ini bisa memperbaiki semua itu.

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.