Review Film Ant-Man and the Wasp

1543

Sebelum memulai Review Film Ant-Man and the Wasp ini, perlu diingat saat membidani Ant-Man, sineas Peyton Reed adalah muka baru dalam hal menyutradarai film blockbuster sarat special effect. Tidak hanya itu, ia bisa dibilang ‘mendapat sokongan’ kinerja Edgar Wright, yang tadinya menukangi proyek tersebut namun hengkang karena perbedaan visi dengan pihak studio.

Dan, memang hal itu terlihat dalam hasil akhirnya, di mana dalam Ant-Man pertama ia seakan mencampuradukkan unsur komedi, aksi, dan mitologi kisah asal usul ke dalam sebuah film yang menjurus ringan dan sederhana alih-alih punya citarasa tinggi. Sungguhpun demikian, meski sebagian kalangan masih berandai-andai apa jadinya jika Wright yang menyutradarainya, film sepak terjang perdana Ant-Man arahan Reed ini umumnya rilisan Marvel lainnya, mendapat apresiasi yang lumayan positif hingga lampu hijau untuk proyek sekuelnya diberikan.

Tanpa keterlibatan Wright di dalamnya kali ini, Ant-Man and the Wasp tidak ubahnya kesempatan kedua bagi Reed untuk membuktikan kapasitasnya kepada khalayak, bahwa seiring waktu dan bertambahnya jam terbang, ia mampu menyuguhkan paket hiburan yang berkelas. Apakah ia berhasil kali ini?

Melanjutkan fondasi kisah maupun formula yang dikedepankan di film pertamanya, Reed kentara tampak lebih leluasa membidani film babak kedua Ant-Man ini. Sebagai film aksi fantasi Ant-Man and the Wasp mampu berevolusi menjadi paket unik yang punya ciri khas tersendiri.

Segala aspek yang ada di film ini, teknologi membesarkan-menyusutkan, parade special effect, adegan laga dinamis (dengan memanfaatkan ciri khas kemampuan karakter sentralnya), dialog antar pemain Reed arahkan sedemikian rupa menjadi adegan yang menghibur. Siapa yang menyangka benda yang menjadi rebutan di sini notabene adalah sebuah gedung yang ukurannya disusutkan ataupun penggunaan dispenser Pez Hello Kitty yang digunakan sebagai senjata ampuh.

Baca Juga:  Review Film Foxcather - From Zero to Hero

Sang sineas juga ibarat telah mempelajari bagaimana menahkodai sebuah film superhero Marvel dengan tetap menjaga koridor kisahnya ringan dan mudah diterima banyak lapisan kalangan. (meski sejatinya, dialog dan konflik utamanya menggunakan bahasa fiksi ilmiah intelek).

Sebagai pemain ujungtombaknya, Paul Rudd kembali menampilkan performa baik. Sedangkan, Lilly mampu mengimbangi nama-nama yang jauh lebih tenar di sini seiring membangun perkembangan karakter sesuai perkembangan ceritanya.

Layaknya kepingan MCU, referensi kaitan dengan event Marvel sebelumya, juga dihadirkan Reed di sini. Reed juga menyertakan nuansa girl power yang tengah dikumandangkan kencang di Hollywood, selain kehadiran karakter sentral the Wasp, juga memodifikasi karakter Ghost menjadi villain wanita.

Sayangnya, kespektakuleran di sektor visual tidak didukung dengan storyline yang apik. Dan, hal ini sangat terasa saat film memasuki paruh keduanya. Akibatnya, meski tidak bisa disangkal komedinya berhasil, jalinan kisahnya lemah, dengan ada beberapa adegan yang sebenarnya tidak perlu dan jika dihilangkan tidak berpengaruh pada kesinambungan plotnya.

Kelemahan lainnya adalah apa yang dihadirkan lagi-lagi adalah paket tontonan yang besar kemungkinan sudah berulangkali disaksikan oleh audiens. Kebanyakan elemen dasarnya bahkan sangat klise. Sementata, tokoh antagonisnya sangat lemah karakternya dan  merupakan salah satu penjahat MCU paling standar pun tidak penting,

Meski demikian, film sekuel Ant-Man ini bukanlah film yang buruk. Aksinya menghibur dan komedinya hidup, Hanya saja, sajiannya masih terasa sekadar pengulangan, yang menjadikan bagi MCU ini ibarat langkah mundur jika dibandingkan apa yang sudah mereka capai sebelumnya melalui Black Panther.