Review Film Aladdin

594

Apakah Anda pernah menyaksikan, membaca, mendengar atau sedikitnya mengetahui perihal tentang dongeng anak-anak klasik populer Aladdin? Bagi yang menggemari kisah-kisah dongeng, baik itu dalam bentuk gambar bergerak, cerita bergambar, atau hanya sekedar sebatas tulisan, rasanya ganjil, apabila belum pernah mendengar perihal dongeng paling populer dari kumpulan cerita rakyat jazirah Arab berjudul sama yang dikenal sebagai 1001 Malam ini. Pasalnya, selain juga sangat populer, kisah ini sudah berulang kali diangkat ke versi film. Khusus Disney sendiri, Aladdin menjadi salah satu film animasi rilisan paling sukses mereka.

Dan, melanjutkan apa sudah mereka mulai pada tahun 2015, melalui Cinderella, dengan goal memancing perasaan nostalgia dan mungkin bercermin pada formula kesuksesan film-film adaptasi novel, Disney mulai memberi gambaran visual yang tulus dan loyal dari animasi-animasi sukses mereka ke format live action. Nyatanya, sejauh ini langkah yang ditempuh itu terbukti efektif, di mana meski notabene perihal baru yang bisa ditawarkan sejatinya rendah (jika dibandingkan dengan hasil modifikasi kontemporer drastis dari saga yang sudah familier), torehan yang jauh lebih mengembirakan terbukti mampu diraih, baik dari segi raupan komersialnya maupun apresiasi dari kritikus.

Cinderella, Beauty and the Beast, dan The Jungle Book menorehkan hasil teramat impresif, yang membuat Disney makin bersemangat meng-live-action-kan lebih banyak lagi koleksi animasi klasik mereka. Yang paling gres adalah besutan teranyar sineas Guy Ritchie ini. Menariknya, film ini dirilis hanya berselang kurang lebih dua bulan dari perilisan Dumbo yang notabene memiliki karakteristik asal usul yang sama. Aladdin sekaligus menjadi film kedua dari total tiga dongeng Disney live action yang dijadwalkan rilis tahun ini (satu lagi adalah Lion King-red).

Baca Juga:  Marvel Tak Berencana Untuk Membuat Film dengan Rating R

Aladdin berkisah tentang seorang pemuda pencuri kelas teri di kota Agrabah bernama Aladdin yang sepak terjangnya kemudian mempertemukannya dengan Princess Jasmine, putri sultan Agrabah dan misi penemuan sebuah lampu ajaib. Aladdin yang berhasil mendapatkan lampu tersebut kemudian mendapatkan anugerah tiga permintaan dari Genie; si penghuni di dalamnya, yang lalu digunakannya untuk memikat hati sang gadis pujaan dan dalam prosesnya berkonfrontasi dengan Jafar, penasihat sultan yang punya ambisi jahat menguasai Agrabah.

Dari segi plotnya, seperti tadi disinggung sebelumnya, pendekatan yang diambil menjadikan cerita yang dikedepankan tidak terpaut jauh dengan versi orisinalnya. Namun, perlu ditekankan pula, bahwa kekhasan adaptasi live action dari animasi Disney (‘sentuhan modern’ berupa penambahan subplot atau manuver visi yang membuat muatannya berbeda dengan versi aslinya-red) juga banyak dijumpai di sini. Untuk kasus ini, meski tidak terlalu kentara, audiens yang peka mungkin akan menyadari sesuai dengan gerakan girl empowerement yang tengah bergaung kencang di Hollywood beberapa tahun belakangan, karakter yang lebih menonjol di sini cenderung pada Princess Jasmine, alih-alih Aladdin, meski notabene durasi tampilnya lebih banyak.

Sejurus dengan ‘para saudara tuanya’ daya tarik Aladdin adalah perwujudan visualisasi yang dulu disajikan di film animasinya dalam versi hidup. Pun juga storyline dan materinya memungkinkan Ritchie menyuguhkan sebuah epik fantasi dengan tampilan visual yang megah dan warna-warni memanja mata. Dan, memang visualisasi itu yang disajikan Ritchie di sini.

Treatment Ritchie pada Aladdin dari segi visual sangatlah apik. Sang sineas dalam menghadirkan sesi adegan-adegan musikalnya pun jauh dari mengecewakan. Segmen adegan tembang klasik dari versi animasinya dapat dihadirkan nostalgik dan ekspresif dengan caranya tersendiri namun di momen yang sama terasa megah seperti di versi animasinya. Apa yang dihadirkan sang sineas bisa dikatakan sebagai love letter pada film-film Bollywood dan budaya Timur Tengah. Menariknya, sang sineas juga tidak ketinggalan menyertakan ciri khas gaya penyutradaraannya, yang bagi kalangan familier dengan film-filmnya pasti akan mudah menyadarinya.

Baca Juga:  Review Film Punisher: War Zone - Film Marvel yang Kelam

Dari sektor jajaran pemainnya, Will Smith yang paling disorot negatif sebelum film ini dirilis, justru menjadi nyawa utama dan yang paling impresif performanya di antara seluruh jajaran pemain lainnya. Menanggung beban berat sebagai suksesor Robin Williams, Smith berhasil tampil energik untuk mendongkrak Aladdin seraya menjadikan karakter Ginie yang dimainkannya tidak mengekor mentah-mentah predecessornya. Sedangkan, untuk pengusung dua karakter Aladdin dan Jasmine, duo Mena Massoud dan Naomi Scott mampu mengembannya peran mereka dengan baik. Aktris Nasim Pedrad yang memerankan dayang mampu mencuri perhatian

Perlu diinformasikan, sebelum dirilis, Aladdin sempat didicemaskan hasil akhirnya. Pemicunya adalah berkenaan dengan pelbagai kontroversi menyangkut pemilihan jajaran pemain kuncinya, terutama Will Smith sebagai karakter CGI: Genie,Naomi Scott, hingga ke pemilihan Guy Ritchie di bangku sutradara. Namun, dari jika ditolok ukur dari filmnya, walaupun tidak sampai mencapai level mampu menghadirkan apa yang disebut daya magis Disney, Aladdin dalam hemat penulis: berada di garis yang aman.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.