Review Film 7 Days in Hell: Kompetisi Menakjubkan di Lapangan Tenis

2255

7 days in hell
Mockumentary adalah sebuah film fiksi yang disajikan dengan format dan gaya dokumenter, dan biasanya film ini dibuat untuk menganalisa atau mengomentari suatu peristiwa atau isu dengan setting-an fiksi. Berbeda dengan film pada umumnya, di mana seorang kameraman bergerak menyorot sang aktor yang menjadi tokoh utamanya, film mockumentary justru memposisikan sang kameraman sebagai tokoh utama dan memiliki karakternya sendiri untuk berdialog dan berakting layaknya sebuah film dokumenter. Berbicara tentang film mockumentary, baru-baru ini HBO merilis sebuah film televisi yang disutradarai oleh Jake Szymanski dan ditulis oleh Murray Millerdan berjudul 7 Days in Hells yang ditayangkan perdana pada 8 Juli 2015 lalu.
Film ini menceritakan tentang dua orang petenis profesional, Aaron Williams (Samberg) dan Charles Poole (Harington) yang menjadi rival dalam sebuah pertarungan terpanjang dalam sejarah olahraga. Sebelum menjadi petenis andal, Aaron yang dijuluki sebagai “The Bad Boy of Tennis” – setelah pernah menewaskan seorang hakim garis akibat pukulan bolanya yang keras – ini ditemukan oleh seorang pelatih tenis, Richard Williams di pinggir jalanan yang kemudian diadopsi menjadi anak angkatnya. Sejak kecil, Aaron telah diajarkan bermain tenis oleh Richard, hingga di umurnya yang sudah matang, ia mulai mengikuti perlombaan tenis dan lolos dalam Final Wimbledon tahun 1996. Sedangkan, Charles yang sejak kecil sudah menunjukkan bakat luar biasanya, dipaksa oleh sang ibu untuk terjun sebagai petenis. Aaron dan Charles bertemu pertama kali saat mengikuti kejuaraan Wimbledon 2001, di mana keduanya sama-sama yakin akan tampil sebagai juara.

Charles was, by far, the thickest person I ever met. It was like talking to a child with brain damage. – Lily Allsworth

7-days-in-hell
Pasca penayangan perdananya, film ini mendapatkan respon yang cukup baik dari para kritikus maupun penonton. Beberapa kritikus dari Los Angeles Times, TV Yahoo, New York Times, dan San Francisco Chronicle berpendapat bahwa film ini adalah film komedi yang menyajikan unsur dokumenter yang tidak asal-asalan, sehingga sangat nyaman untuk dinikmati. Selain itu, ada pula yang menilai bahwa meskipun banyak bahasa kasar dan adegan frontal yang ditampilkan dalam filmnya, sang penulis naskah masih memperkuat jalinan kisahnya dengan latar belakang penceritaan yang baik dan lebih hidup. Mengejutkannya lagi, film ini juga menampilkan beberapa penampilan cameo dari David Copperfield, Chris Evert, Filip Hammar, Jim Lampley, John McEnroe, Soledad O’Brien, dan Serena Williams.

Baca Juga:  Iqbaal Ramadhan dan Aurora Ribero, ada apa dengan mereka?



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.