Erik Matti

On The Job : interview bersama sutradara Erik Matti

122

On The Job adalah sebuah film serial original HBO Asia dari negara Filipina. Saat ini telah tayang dan mulai dapat ditonton episode demi episode setiap minggunya.

Bagi yang telah melihat episode pertamanya, tentunya akan mengingat adegan di awal adegan, yang menggambarkan genre film ini untuk episode demi episode selanjutnya. Adegan yang keras, brutal dan to the point , diberikan oleh Erik Matti dengan sepenuh hati.

 

Kali ini Cinemags (diwakili Nuty Laraswaty) berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait akan On The Job ini. Berikut adalah rangkumannya.

Q: Bisa dijelaskan mengenai proses film ini

A : Film ini memang dibuat untuk dua film, namun kemudian ada pandemi, sehingga dipikirkan akan lebih baik jika film ini diputar berurutan , terlebih akhir cerita pada yang pertama terhubung langsung dengan alur cerita pada film yang kedua. Serta karena proses waktu produksi yang lama ini, ada adegan-adegan yang tadinya hendak ditiadakan, justru diangkat kembali .

Kemudian ada juga yang durasinya hingga tiga jam. Tentunya jika ditayangkan di bioskop ini kurang sesuai. Ada sebuah diskusi antara saya dan produserΒ  untuk memotong dan membagi menjadi dua bagian film ini atau menghapus beberapa adegannya. Namun pada akhirnya film ini diterima dengan baik oleh HBO, serta menjadi serial.

Q : Adegan yang manakah yang paling sulit dilakukan proses penyutingan?

A : Ada satu adegan besar yang ingin kami ambil dengan one shootΒ , misalnya saat adegan pesta saat Sisoy hendak bertemu dengan Mayor. Itu harus kami lakukan dua kali, karena saat pengambilan pertama salah satu aktor harus pulang cepat dan ternyata pengambilan gambarnya tidak bagus.

Kalau disini, rata-rata aktor juga terlibat pada jadwal syuting pada tv, sehingga untuk proses syuting layar lebar, tergantung pada jawal syuting tv.

Baca Juga:  Sinopsis The Matrix Resurrections Ungkap Dunia Digital yang Lebih Kuat dan Lebih Berbahaya

Serta kemudian saya melihat kalau jumlah orang dalam adegan tersebut terlalu sedikit, saya ingin lebih banyak lagi orang yang terlihat pada gambar. Namun ini juga menjadi masalah, karena semua aktor punya kesibukan dengan syuting tv nya. Jadi untuk proses syuting adegan-adegan besar, banyak faktor yang harus diperhatikan.

Kemudian juga adegan pada akhir cerita di penjara, itu benar-benar proses pengambilannya hampir satu hari. Kami melakukan pengambilan gambar di penjara anak-anak, yang juga disana ada sekolahnya. Nah, ruang sekolah itulah yang kami rubah menjadi ruangan penjara.

(bersambung)