In the Heights: Sinopsis dan Ulasan Film

760

Tanpa perlu basa basi lagi (baca mengenai perihal menarik tentang film ini di sini) , In the Heights adalah kemenangan besar bagi duet Jon M.Chu dan Lin-Manuel Miranda. Drama musikal yang kisahnya diangkat dari drama panggung Broadway berjudul sama karya Miranda ini berhasil menyajikan paket hiburan yang nyaris sempurna berkat presentasi visualisasi indah nan energik Chu yang memang sudah terbukti lewat dua karya Step Upnya dan juga Crazy Rich Asians.

Dikemas dengan begitu banyak musik, bumbu, dan rasa, bagi yang tidak asing dengan ciri khas Miranda, Anda akan melihat akar Hamilton di sini, kemenangan Broadway pertamanya (baca reviewnya di sini). Sama seperti di Hamilton, semua genre musik ada di sini, dari salsa, merengue, jazz, rap hingga hip hop, pop, dan Broadway tradisional.

Banyak referensi mengenai Hamilton pun bertebaran di sini, berkenaan para pemainnya maupun irama musik populernya. Miranda sendiri ikut ambil bagian di dalamnya, berperan sebagai penjual Piragua (es serut buah khas Puerto Rico-red) yang memiliki permasalahannya sendiri.

In the Heights menceritakan kisah kehidupan komunitas Latin di sebuah sisi kota New York, bernama Washington Heights, yang bergulat dengan problematika keseharian mereka dalam meraih kesuksesan maupun bertahan hidup di Amerika. Dengan tokoh-tokoh bernama Usnavi, Nina, Vanessa, Benny, Sonny, dan Abuella Claudia sebagai pengisi kisahnya. Usnavi adalah narator yang kembali secara berkala untuk menceritakan kisahnya kepada sekelompok anak-anak yang sangat lucu.

Chu dan Miranda menenun kisah komunitas Latin tersebut melalui lagu-lagu dengan ratusan penari yang dikoreografikan dengan presisi sangat apik. Kisahnya sendiri mengalir indah. Lewat narasi Usnavi, peran yang dalam lakon drama panggungnya dimainkan Miranda namun di sini dimainkan oleh Anthony Ramos, pemeran sang anak di Hamilton, penonton akan dibawa keluar – masuk dari kilas balik ceritanya, sambil dibuat bertanya-tanya apakah kisah ini akan berakhir bahagia atau tidak seiring kisahnya makin bergulir.

Baca Juga:  Jadwal Rilis Prekuel Mad Max, Furiosa Ditunda oleh Warner Bros.

Film ini sejatinya menyuguhkan tema yang berat karena mencakup lebih banyak isu terkini termasuk gentrifikasi di perkotaan Amerika, imigrasi, DACA dan rasisme terhadap orang kulit berwarna. Namun, disajikan lewat penuangan kisah yang menawan dari kacamata tokoh-tokoh yang mampu menarik simpati, membuat sajiannya dijamin tidak akan terlalu memberatkan pikiran.

Ada banyak momen indah dalam film ini saat kita mengikuti perjalanan para karakter. Mulai dari koreografi yang sangat apik berskala besar, penampilan vokal yang menyentuh emosi, serta adegan balet menawan yang disyut dalam adegan yang memukau.

Sebagaimana film-film layar lebar yang kisahnya diangkat dari lakon drama panggung sukses, sudah bukan rahasia lagi sangat besar kemungkinan untuk hasilnya dikhawatirkan tidak akan memenuhi harapan para penggemar aslinya atau dalam hal menjangkau kalangan awam. Tetapi, dengan kejeniusan Miranda, arahan Chu, ditunjang perpaduan pemain dan kru berbakat, produksi ini, dipenuhi dengan energi yang menggembirakan, lebih dari sekadar menerjemahkan dari panggung ke layar.

Tembang-tembang dan kisahnya secara konsisten saling mengisi secara bergantian membawa keriaan maupun kesedihan, dengan menyeimbangkan lika-liku perjalanan para karakternya. Sajian In the Heights sendiri sangatlah sentimental, dengan berhasil menyampaikan kehangatan dan cinta para karakternya bahkan dalam momen puncak konfliknya.

Kekuatan hubungan karakter dan rasa komunitas yang mendalam membuat film ini semakin kuat, dengan ketukan emosional yang menarik hati dan urutan romantis lembut yang mempesona dan indah, semakin meningkat berkat performa prima para pemainnya. Musikalitasnya sangatlah energik, memikat indra penonton sejak awal. In the Heights secara visual juga spektakuler, dengan kostum dan desain produksi yang detail dan penuh warna.

In the Heights adalah film yang dibuat dengan indah dan upaya penuh semangat yang telah dicurahkan untuk menghidupkannya ditampilkan di setiap adegan. Ada beberapa perubahan yang dibuat dari pertunjukan asli agar lebih sesuai dengan aliran film dan berfungsi secara efektif meningkatkan pengalaman pengaturan asli musikal tanpa menghilangkan inti cerita. Film musikal  notabene  sangat tidak mudah untuk beradaptasi menjadi film layar lebar — beberapa hal mendukung cerita sementara yang lain tidak (Cats, contohnya-red). Namun, In the Heights mampu mengantisipasi itu semua dengan sangat baik, sembari rasanya berhasil menjelma menjadi film musikal yang secara kultural sangat penting untuk abad ini.

Baca Juga:  Megan Fox dan Tyson Ritter Akan Membintangi Proyek Thriller Kejahatan Johnny and Clyde

In the Heights mulai tayang di bioskop tanah air  9 Juni 2021




Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.