Godzilla vs. Kong, Ulasan Babak Paling Gres MonsterVerse

356

Berjarak dua tahun dari kepingan sebelumnya, MonsterVerse kembali dengan film keempatnya. Film ini mengetengahkan babak yang paling ditunggu-tunggunya, yakni pertarungan akbar dua titan paling ikoniknya, Godzilla dan King Kong dalam Godzilla vs. Kong. Film ini menjadi kali kedua perjumpaan mereka sejak King Kong Vs Godzilla di tahun 1962. Filmnya sendiri mengambil setting masa sekarang dalam semesta MonsterVerse.

Diceritakan, beberapa waktu setelah dunia menyaksikan bagaimana Godzilla kembali menyelamatkan Bumi dari ancaman besar beberapa titan, salah satunya Ghidorah, warga dunia menjadi bertanya-tanya saat di suatu kesempatan Godzilla tiba-tiba muncul dan melakukan serangan yang memakan korban besar. Mencium ketidakberesan, Madison Russell (Millie Bobbie Brown) memutuskan melakukan penyelidikan bersama kenalan barunya. Tujuannya untuk mengungkap apa yang memicu Godzilla berprilaku tidak seperti biasanya.

Sementara itu, Kong usut punya usut sudah menjadi tangkapan Monarch, di mana ia ditempatkan dalam suaka alam buatan berteknologi canggih di bawah pengawasan Dr Ilene Andrews (Rebecca Hall). Untuk jembatan komunikasinya, seorang bocah perempuan dari habitat lama Kong, Jia turut dibawa.

Sebuah misi yang berusaha mengungkap eksistensi mitos keberadaan dunia lain di kedalaman Bumi dan keberadaan sebuah perusahaan teknologi bonafid Apex Cybernetics yang diam-diam memiliki agenda tersembunyi memertemukan Godzilla dan King Kong dalam rivalitas dahsyat. Tinggal menyisakan mereka berdua sebagai titan legendaris yang masih tersisa, siapakah di antara keduanya yang akan menjadi pemenangnya?

 

Itulah kurang lebih premis singkat apa yang disajikan dalam Godzilla vs. Kong arahan Adam Wingard ini. Dari segi jalan ceritanya, seperti yang bisa ditebak bahwa ini bukan daya tarik utamanya, plot ceritanya terhitung sederhana. Sama dengan tiga film semesta MonsterVerse sebelumnya, sulit untuk mengesampingkan bahwa film ini memiliki kelemahan identik yakni masih sedikit kewalahan dalam menerapkan langkah maupun ritme pengisahan yang tepat, terutama dalam menjalin benang merah yang apik satu sama lainnya. Yang mana, mungkin bagi sebagian kalangan bisa merasa bahwa cara penuturan keterkaitan antar film semesta MonsterUniverse ini kurang digarap mulus, meski jika dibandingkan satu sama lainnya selalu ada peningkatan kualitas.

Baca Juga:  Illumination Hadirkan Serial Digital Saturday Morning Minions

Adegan awal film ini (baca pula hal-hal yang perlu diketahui mengenai film ini sebelumnya di sini-red), perlu digarisbawahi menghadirkan situasi yang melompat cukup jauh dan memang tidak tertuang di film sebelumnya (entah apakah ada materi tie-in penjalin benang merah ke film ini atau tidak-red). Jadi, bagi yang mungkin nanti merasa lost track, jangan bingung, nikmati saja sajian ini layaknya sebuah film stand-alone, toh hal ini tidak begitu terasa mengganggu. Meski dalam hal karakter manusianya sendiri, khas franchise pada umumnya, beberapa karakter yang sudah muncul di film babak-babak sebelumnya kembali hadir, meneruskan peran mereka.

 

Meski kentara berusaha untuk tidak memihak, mengingat baik Kong maupun Godzilla adalah karakter monster ikonik perfilman yang masing-masing sudah memiliki fans besar, namun dari segi perspektif penceritaan film ini cenderung menyoroti Kong, yang memang sejatinya membutuhkan eksplorasi pengkarakteran yang lebih dalam, serta protagonis utama.

 

Sebagaimana yang bisa diharapkan dari film ini, aksi dan pertarungan dua monster ikonik adalah jualan utama dari film ini. Dan, dalam hal ini, pengeksekusian Wingard beserta timnya rasanya lumayan mampu memenuhi ekspektasi fansnya. Adegan aksi para monsternya terlihat masif, berdurasi lumayan panjang, dan sangat menghibur. Tata sinematografi, penyuntingan gambar, serta suara tampil megah dalam presentasi di setiap adegan film.

Kredit lebih juga layak diberikan pada tim penulis skrip, karena mampu menghadirkan elemen tambahan yang tidak hanya membuat hasil akhir film ini agak berbeda dengan kebanyakan film tentang rivalitas monster pada umumnya, namun juga tribut yang sangat signifikan pada lore saga legendarisnya (Ya, spekulasi itu terbukti benar-red). Untuk penuangan karakter manusianya, ada sedikit peningkatan dibanding yang ada di film sebelumnya, meski harus diakui kurang cukup berhasil jika untuk mengikat sisi emosional dari penonton.

Baca Juga:  Paramount akan Memperluas Dunia A Quiet Place dengan Sebuah Spinoff

Secara keseluruhan, Godzilla vs. Kong memenuhi janjinya akan pertempuran dua monster titan ikonik  spektakuler yang sudah sangat ditunggu-tunggu fansnya dan ditujukan sebagai kulminasi semesta MonsterVerse. Di sisi yang sama, film ini masih punya kelemahan dalam menyeimbangkan drama manusia yang kompeten dan kekacauan destruktif yang memuaskan, namun ada cukup banyak yang berhasil di sini untuk menyenangkan sebagian besar fans fanatik MonsterVerse atau siapa pun yang berminat untuk menyaksikan aksi para monster raksasa di layar lebar. Mengingat, endingnya terbuka, rasanya banyak yang tidak berkeberatan jika nantinya masih ada lagi film tambahan yang menindaklanjuti rivalitas dua monster ikonik ini.

 

Godzilla vs. Kong dapat disaksikan di bioskop tanah air mulai 24 Maret 2021.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.