Fear Street Part Two: 1978 – Ulasan Film

229

Setelah film pertamanya yang menggelitik, film trilogi adaptasi seri horor RL Stine berlanjut dengan film babak keduanya, Fear Street Part Two: 1978. Disajikan lebih berdarah, garis besar cerita yang diketengahkan di sini berfokus pada para penyintas serangan Shadyside 1994 mulai mendapatkan titik terang atas misteri kutukan yang mereka hadapi.

Trilogi Fear Street ini secara keseluruhan kisahnya memetakan misteri supranatural terkait Sarah Fier, seorang gadis yang didakwa sebagai penyihir. Tewas diadili massa, Fier kemudian tampaknya mengutuk penduduk Shadyside menjadi kota paling mengerikan di seantero Amerika.

Melanjutkan langsung apa dari akhir film sebelumnya, kakak beradik Deana dan Josh Johnson akhirnya bertemu dengan Cindy Berman, satu-satunya penyintas yang berhasil selamat dari kejadian horor traumatis terkait Fier, yang terjadi di kamp musim panas bernama Nightwing di tahun 1978. Dari penuturan Bermanlah yang kala itu merupakan salah satu pengurus di kamp tersebut bersama saudari perempuannya, tidak hanya bagaimana kronologis peristiwa berdarah kamp Nightwing terjadi dan latar belakang salah satu utusan kematian Fier yakni si pembunuh kapak bertopeng, namun juga ada beberapa petunjuk yang berhasil didapatkan oleh kakak beradik Johnson untuk tidak hanya sekadar menyelamatkan nyawa Sam yang tengah kerasukan, namun juga cara mengakhiri kutukan Fier terhadap kota Shadyside untuk selamanya.

Sesuai judulnya yang mengetengahkan setting era 1970an dan TKPnya adalah kamp musim panas yang menjadi ladang pembantaian, harus diakui sajian Fear Street Part Two: 1978 tidak sesegar film pertamanya. Para penikmat film horor pasti dapat mudah menelusuri bahwa akar dari film kedua ini adalah bentuk penghormatan langsung ke film-film slasher 1970an, terutama saga Friday the 13th. Meski di dalamnya juga berisikan beberapa unsur dari Carrie, hampir keseluruhan storyline 1978 menggali lebih dalam elemen film-film slasher klasik. Dengan unsur seks, narkoba, dan adegan-adegan kematian lebih mengerikan (kadar gore di sini rasanya akan membuat puas para penyuka film-film genre slasher).

Baca Juga:  Kingdom: Ashin of the North - Sinopsis dan Ulasan

Walaupun dari segi formulanya sebetulnya cenderung lebih klise, dari segi pengeksekusian dan kualitas akting para pemainnya, Fear Street Part Two: 1978 lebih unggul dari babak pendahulunya. Faktor jajaran pemain yang lebih dikenal, salah satunya Sadie Sink yang angkat nama dari serial Stranger Things terbukti memberikan bobot tersendiri. Penokohan dan ekplorasi para karakternya pun lebih cair, sehingga makin menghidupkan storylinenya. Untuk babak ini, penulis pribadi merasa tokoh Alice yang dimainkan oleh aktris Ryan Simpkins adalah scene stealer yang membuat Fear Street Part Two:1978 sangat menarik.

Janiak piawai dalam menggali lebih jauh kepingan-kepingan petunjuk yang menggali latar belakang penyebab supranatural yang nantinya saling terhubung satu sama lain di saga trilogi ini. Twist yang diinjeksikannya di paruh akhir cerita juga meski ia paparkan secara gamblang, efektif menambah bobot kualitas film kedua ini dan makin menambah daya tarik konklusinya nanti di film ketiganya.

Sebagai film babak kedua yang menanggung beban menjadi faktor penentu apakah saga ini layak disaksikan atau lebih baik dilewatkan audiens, Fear Street Part Two: 1978 berhasil mengentaskan misinya dengan sangat baik. Dengan kualitas di segala sektor yang bisa dibilang hampir seluruhnya unggul dari film pertamanya, film ini tidak hanya berhasil memuaskan penggemar film pertamanya namun juga mampu meningkatkan level saga ini sebagai salah satu entry di daftar film slasher remaja modern terbaik.

Fear Street Part Two: 1978 dapat disaksikan secara streaming di Netflix