Dune: Part One – Ulasan Film

174

Dalam konteks film adaptasi novel, terdapat beberapa judul buku yang sebelumnya dianggap tidak bisa difilmkan menurut kalangan film luas, dikarenakan sebab yang beralasan. Sumber materi kisahnya begitu kaya, kompleks, dan dalam hingga nyaris mustahil untuk hasil yang memuaskan bahkan jika dituangkan dalam satu film berdurasi tiga jam sekalipun, salah satunya Dune, novel karya Frank Herbert, yang kini tengah dihidupkan kembali oleh Denis Villeneuve lewat Dune: Part One.

Space opera yang berkisah tentang intrik politik tiga klan besar untuk penguasaan sebuah planet dan transformasi seorang tokoh yang dianggap sebagai orang yang terpilih ini punya level tantangan yang luar biasa. Selain isi materi novel laris ini jauh melampaui zamannya, penuangan Frank Herbert di sini punya kompleksitas yang sangat tinggi. Sebagai salah satu saga orisinal, Dune menginspirasi banyak saga populer, dari Star Wars hingga serial fenomenal Game of Thrones. (Baca sinopsis resmi film ini di sini)

Upaya memfilmkan Dune sendiri sudah dimulai sejak era 1970an. Yang pertama lewat upaya ambisius Alejandro Jodorowsky yang kandas di tengah jalan, sedangkan yang kedua adalah lewat arahan David Lynch yang meski berhasil memfilmkannya, namun sang sineas sendiri tidak puas dan kecewa dengan hasilnya, walaupun film Dune arahannya itu kini menjadi salah satu cult classic.

Pasalnya ada dua cara untuk menuangkan kisah Dune. Yang pertama, sebagai surat cinta pada genre fiksi ilmiah kelas berat dengan intrik politik ala abad pertengahan. Sedangkan, yang kedua, sebagai sajian audio-visual yang menghadirkan lansekap estetik yang spektakuler, teknologi masa depan, dan warisan keluarga ke dalam plot yang emosional dan filosofis. Untungnya, sekarang lewat remake besutan Denis Villeneuve dua hal itu mampu dicapai, para penggemar Dune rasanya mendapatkan versi penuangan ideal yang mungkin sudah lama dinanti-nantikan.

Baca Juga:  Teaser Perdana Serial Money Heist Part 5: Volume 2

Membidik sebagai saga berkelanjutan, Villeneuve menyajikan kisah Dune ini dalam rancangan beberapa part. Dan, dari apa yang terlihat dari Dune: Part One ini, sepertinya sebuah saga besar nan epik, sejatinya telah lahir.

Dengan paduan gaya khas penyutradaraannya, seperti yang ia lakukan sebelumnya di Arrival dan Blade Runner 2049, tidak seperti di versi Lynch, Villeneuve memaparkan fondasi universe Dune dengan cara yang lebih detail dan panjang. Paruh awalnya seakan ditujukan mengedukasi audiens yang mungkin belum mengetahui perihal Dune untuk lebih mudah masuk ke dunianya.

Dengan banyaknya istilah scifi baru di Dune: Part One ini, mungkin tidak semua orang akan menikmati injeksi informasi-informasi fiksi tersebut, namun Villeneuve mampu menyeimbangkannya dengan pelbagai aspek visual yang didukung score musikΒ  Hans Zimmer yang terbukti sangat efektif menambah nyawa seluruh adegannya. Menjadikan Dune film yang benar-benar tampak indah, memanjakan diri dalam beberapa lansekap visual terbaik yang pernah ada di layar lebar. Kostumnya menakjubkan, castingnya beragam dan karakterisasinya lumayan bagus karena banyak tokoh dan konsep diumpankan ke penonton.

Dari jajaran pemainnya, selain chemistry apik TimothΓ©e Chalamet dan Rebecca Ferguson, jajaran pemain pendukungnya yang terdiri dari banyak nama besar terbukti mampu mengeskalasi kenikmatan menonton. Jason Momoa, Oscar Isaac, dan Josh Brolin sukses menjadi three musketeers yang impresif dalam setiap porsi adegan mereka.

Tanpa perlu panjang lebar, penulis sendiri yang tadinya sedikit skeptis dengan film ini (karena khawatir film ini hanya menjadi sekadar versi Lynch dengan β€˜make up’ yang lebih baik-red) harus mengakui bahwa Dune: Part One di luar dugaan adalah film yang nyaris sempurna. Dan, rasanya di antara film-film scifi besutan Villeneuve lainnya, ini adalah yang paling asyik dinikmati. Harapan pun melambung tinggi dengan sajian babak kelanjutannya kelak.

Baca Juga:  Ghostface Kembali Meneror Para Korban di Trailer Perdana Scream

Hanya ada satu kritik nyata terhadap Dune: Part One. Rasa haus Villeneuve akan sekuel menjadikan pace penceritaan saga ini terasa sedikit lama untuk menyentuh audiensnya. Mirip dengan eksekusi Peter Jackson di babak pertama The Lord of the Rings dan The Hobbit, Dune menyiapkan begitu banyak eksposisi sehingga banyak komponen konflik didorong ke bagian kedua, dan (spoiler kecil) jenis film yang baru mengungkap sebagian kecil jalan ceritanya saja.

Sebagai penutup, menurut penulis, dengan Dune: Part One, Villeneuve melakukan pekerjaan awal yang luar biasa dalam memberikan versi yang ditunggu-tunggu oleh penggemar setia Dune. Tapi pertanyaannya… Apakah itu mumpuni untuk menarik kalangan non fans peduli dengan kebangkitan saga luar angkasa epik lawas ini sehingga bisa dibuat sekuelnya di masa depan? Mengingat pihak kreator baru akan memberi lampu hijau jika performa film babak pertama ini dinilai memuaskan secara komersial.

Dune: Part One akan tayang di bioskop tanah air mulai 13 Otober 2021