Dokumenter Musik Gelora Magnumentary Diluncurkan

107

Bandung mendapatkan tempat spesial di dunia musik Indonesia. Banyak musisi rock dan metal berkelas nasional dan internasional yang dilahirkan melalui pergerakan komunitas kota Bandung. Saparua menjadi salah satu tempat ikonik yang menjadi saksi sejarah pergerakan musik tersebut sejak tahun 1970an hingga akhir 1990an. Sejarah tersebutlah yang hendak diceritakan di dokumenter yang akan tayang tahun 2021 ini.

Digarap oleh Rich Music yang menjadi penggagas proyek rangkaian program DistorsiKERAS dan menjadi eksekutif produser dari film ini, film “Gelora Magnumentary: Saparua” akan disutradarai oleh Alvin Yunata, gitaris dari Teenage Death Star yang juga merupakan seorang penggiat musik dengan pengalaman di bidang jurnalistik dan aktivisme konservasi musik. Para pelaku sejarah pergerakan musik Bandung seperti Sam Bimbo, Arian13 (Vokalis Seringai), Dadan Ketu (Manager Burgerkill/Riotic Records), Eben (Gitaris Burgerkill), Suar (Mantan Vokalis Pure Saturday), dan banyak lagi lainnya dilibatkan sebagai narasumber.

Alvin Yunata mengatakan, “Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi. Namun ada fenomena menarik di decade terakhir sebelum gedung ini dinon-aktifkan, yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekedar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu, di mana sebuah titik melting pot ini melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop, ruang pertukaran informasi dan sebuah pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock n roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia.”

Gelora Magnumentary: Saparua dihadirkan untuk mengapresiasi sejarah scene rock-metal di Indonesia. Program ini didasarkan pada proyek Membakar Batas yang diprakarsai oleh Cerahati sejak tahun 2011. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menangkap semua tonggak besar dalam sejarah rock dan metal scene.

Edy Khemod selaku Creative Director dari Cerahati menjelaskan bahwa inisiatif awalnya adalah untuk merekam sejarah dan jadi inspirasi untuk generasi ke depan dan belajar dari momen tersebut, “Proyek ini inisiatif dari pihak Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia. Kami sama2 berasal dari Bandung, dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 90an saat gerakan independen mulai membesar di Bandung. Dan kami menyadari ternyata selama ini belum banyak dokumentasi dari momen sejarah tersebut.”

Baca Juga:  In Treatment season 4 positif hadir kembali

Ia menyadari pentingnya dokumenter untuk memberikan semangat ke generasi berikutnya, “Dokumenter ini penting karena ada motivasi yang berbeda yang generasi ke depan perlu tahu. Bahwa pergerakan musik independen saat itu memulai tidak atas dasar ekonomi tapi passion atas musiknya. Hal ini penting agar generasi ke depan tidak melulu berorientasi ada kesuksesan ekonomi.”

Film dokumenter ini menunjukkan bahwa komunitas musik di Bandung gak cuma kumpul, tapi saling rangkul. Bahkan dengan keterbatasan, mereka bisa bersatu menjadi sebuah komunal yang solid dan aktif berkreasi untuk menaklukan segala pandangan negatif masyarakat umum di masa lalu. Segala tantangan dan hambatan dilewati bersama-sama untuk kemudian membesar menjadi sebuah industri musik yang kita kenal sekarang. Kepedulian yang sudah lama sejak ada ini lah yang berusaha dibangkitkan kembali melalui inspirasi kejayaan sebelumnya.

Momentum 20 tahun penutupan Saparua sebagai ruang pertunjukan musik dirasa tepat untuk menghadirkan lagi kisah perjalanannya. Melalui penyajian fakta dan juga wawancara yang membangkitkan memori, film ini akan mempertanyakan posisi panggung sebagai wadah kreatif para musisi di Bandung saat ini dan di masa mendatang.

Kehadiran film ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat untuk pencinta musik terutama rock dan metal. Karena kisah kejayaan Saparua berasal awalnya juga dari mereka yang berhasil melawan ketidakpedulian dan mengobarkan gelora untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Sehingga ke depannya akan tercipta lagi bibit-bibit baru yang meneruskan api perjuangan pendahulunya dan bersama sama menjadikan skena rock dan metal menjadi lebih besar

Proyek ini akan menjadi awal mula dari tujuan jangka panjang. Selagi Gelora Magnumentary: Saparua ini diluncurkan, banyak sekali program lain yang dikerjakan untuk memperlihatkan semangat berkarya dari pergerakan musik rock dan metal Indonesia. Salah satunya adalah, feature film yang akan menceritakan gejolak kehidupan orang-orang di balik dunia musik rock dan metal. Selain itu ada juga virtual concert dengan line up Rocket Rockers, Burgerkill, Teenage Death Star, The Panturas, Koil, Jasad, KILMS, Avhath dan lain lain lalu kolaborasi brand fashion bersama Maternal, Lawless, Wellborn dan lain lain dan juga kolaborasi musisi bersama Buluk Superglad, Otong Koil, Robi Navicula, Aska Rocket Rockers dan lain lain. Dalam beberapa bulan berikutnya akan ada info mengenai program-program lain yang sedang dikerjakan.

Baca Juga:  Film You and I Meraih Penghargaan di CPH:DOX Copenhagen International Documentary Festival

Menyoroti solidaritas tanpa batas komunitas musik rock dan metal di Bandung dan direncanakan tayang pertengahan tahun 2021 #DISTORSIKERASTANPABATAS

Untuk info selengkapnya, kunjungi www.richmusiconline.com




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.