All the Bright Places. Kisah Getir Remaja dengan Pesan Penting

414

All the Bright Places adalah film adaptasi Netflix dari novel berjudul sama. Novel yang ditulis Jennifer Niven ini mengetengahkan kisah getir dua insan muda dalam perjuangan mengatasi kehilangan serta cinta dengan latar abad ke-21.

Adapun fokus utama kisahnya adalah polemik hubungan pemuda bermasalah Theodore Finch yang dimainkan Justice Smith (Every Day, Detective Pokemon) dengan Elle Fanning (Super 8, Maleficent) sebagai gadis riang yang berubah menjadi pemurung bernama Violet Markey setelah ditinggal sang kakak dalam sebuah kecelakaan lalulintas yang traumatis.Dikarenakan tugas sekolah, Finch dan Violet mengeksplor kota Indiana yang dalam prosesnya membuat mereka sama-sama belajar untuk menemukan keindahan di hal-hal kecil maupun tidak terduga dalam kehidupan.

Awalnya menghindari segala jenis interaksi sosial, Violet berusaha untuk melarikan diri dari upaya unik Finch yang berusaha keras untuk menarik perhatiannya, hingga akhirnya luluh juga. Ketika Violet dan Finch mengalami perjalanan emosional dan fisik untuk menemukan “keajaiban terbesar Indiana,” mereka berdua saling jatuh hati.

Persahabatan dan cinta yang tumbuh seiring meningkatnya situasi kehidupan keduanya yang semakin rumit membawa kehangatan pada film yang sejatinya menyuguhkan tema lumayan berat ini. Sebagaimana sudah disinggung di awal, tidak seperti kebanyakan film drama remaja, yang umumnya mengetengahkan kisah yang ceria dan semarak, film ini justru bernuansa muram karena audiens diajak menelusuri perasaan kehilangan dan trauma yang dialami Markey, pun juga dengan karakteristik bertambah parahnya gangguan mental Finch yang ia sebut sebagai mood gelap.

All the Bright Places dengan sangat fasih menyuguhkan tema kesehatan mental, memastikan untuk memasukkan realita dan emosi mentah yang datang dengan semua kehilangan dan trauma yang disebutkan di atas. All the Bright Places menyajikan tema mirip dengan yang dapat ditemukan dalam The Fault in Our Stars, Midnight Sun, Five Feet Apart dan banyak film drama romantis remaja tentang dua insan muda yang mencari jalan untuk saling menyembuhkan penderitaan mereka.

Baca Juga:  Netflix Mengonfirmasi Para Pemeran Serial Zombie Korea All of Us Are Dead

Namun, yang membedakan All the Bright Places dengan kisah romantis lainnya yang sudah lebih dulu ada adalah jalinan kisahnya tidak memiliki penggerak kisah berupa penyakit parah. Film ini menampilkan gambaran realistis kehidupan serta apa artinya menjadi seorang remaja di masa sekarang, dan bagaimana rasanya mengalami sakit mental.

Menggabungkan spontanitas dengan konsep pencarian jati diri antara dua insan muda yang disajikan serius, realistis, dan gamblang, pendekatan yang diambil All the Bright Places dalam menggambarkan kehidupan remaja dan gangguan mental mungkin terasa repetitif, namun menurut penilaian pribadi, tidak seperti apa pun yang terlihat sebelumnya dan bisa dibilang sempurna bagi kalangan audiens yang ingin bernostalgia  mengenang kehidupan remaja mereka. Film ini juga berhasil menyelesaikan konflik yang dikedepankannya dengan konklusi yang apik seraya mengekspos secara dalam pergulatan batin seseorang walaupun notabene skripnya terbilang sederhana.

Sebagai ujungtombak utamanya, duo Fanning –Smith mampu mentackle peran yang diberikan mereka dengan sangat baik. Meski awalnya mungkin terlihat kurang cocok keduanya mampu menciptakan chemistry yang membuat interaksi meningkat seiring ceritanya antara mereka berdua menarik diikuti.

Di samping penampilan apik dua bintang utamanya, sajian All the Bright Places juga sangat tereskalasi  oleh pemilihan color palette, aspek sinematografi dan, tembang-tembang soundtracknya, yang membuat sajian arahan Brett Haley ini makin menambah bobot emosi adegan serta rasanya ampuh membuat audiens terhanyut ke naratif yang dikedepankannya.

Walaupun demikian, dengan segala kelebihan yang dimilikinya, lingkup dan skala medioker yang ada dalam film ini secara keseluruhan tidak berarti All the Bright Places adalah film dengan kaliber Oscar. Bahkan juga untuk masuk jajaran teratas film terbaik dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini (impactnya bahkan tidak sekuat The Half of It-red). Namun, sebagai alternatif pilihan tontonan, film ini layak direkomendasikan terutama dalam situasi sulit karena pandemi global Covid-19 seperti sekarang, sebagai penyampai pesan penting dan pengingat bahwa krisis mental adalah permasalahan serius dan dapat hadir dalam pelbagai bentuk, wujud, dan rupa serta dapat menghantam siapa saja tanpa terkecuali dari mana latar belakang, kekayaan, popularitas, maupun strata sosial yang dimilikinya.

Baca Juga:  Ini Dia Deretan Cast dari Film Pandemi Michael Bay, Songbird

All the Bright Places dapat disaksikan secara streaming di Netflix




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.