10 Film Horror, Sci-Fi, dan Genre Baru yang Meramaikan Toronto International Film Festival

1579

Jallikatu (2019)

Film yang akan memberikan penontonnya berbagai kejutan yang sulit dilupakan. Film karya sutradara Lilo Jose Pellissery ini adalah suatu simfoni kekacauan dimana plotnya mengisahkan kerbau liar yang lepas landas yang menyebabkan mayhem di seantero suatu desa kecil di India. Filmnya memiliki gaya seperti Mad Max: Fury Road versi on-foot dan sedikit pengaruh Jaw. Keberadaan kerbau liar yang berbahaya membuat Anda bertanya-tanya bagaimana mereka mengatur segala sesuatunya bekerja di film tanpa harus menyakiti satu makhluk pun. Menonton Jallikattu merupakan suatu pengalaman unik, tidak biasa, dan menyenangkan.

Sea Fever (2019)

Horror akuatik merupakan sedikit dari sub-genre yang belum banyak diketahui, tetapi Sea Fever karya Neasa Hardiman menunjukan mengapa kita perlu waspada dengan apa yang mengintai di kedalaman, ketika makhluk aneh menyelinap ke kapal pukat di lautan lepas. Film ini akan mengingatkan kita pada horror klasik seperti Aliaen dan The Thing dengan plot mengasyikan yang menantang asumsi Anda mengenai hal-hal yang belum diketahui.

Bacurau (Nighthawk)

Tepat setelah rilis The Hunt dibatalkan, TIFF memberikan alternatif dalam permainan sub-genre paling berbahaya yang menggabungkan komentar sosial-politik dengan elemen fiksi ilmiah dan horor. Premisnya sederhana: Di desa Brasil di masa yang akan datang, di mana warganya dijual sebagai mangsa pemburu asing yang haus darah (dipimpin oleh legenda film kultus Udo Kier), sebuah perlawanan terbentuk dalam perang habis-habisan yang memungkinkan para pembuat film untuk memadukan genre dan pukulan pikiran. Obat-obatan psikotropika dilibatkan di sini.

Gundala (2019)

Bagaimana jika the next superhero cinematic universe tidak akan datang dari superhero Amerika, melainkan datang dari negeri sendiri!. Joko Anwar mengemas film superhero yang berbeda berdasarkan adaptasi komik ciptaan Hasmi ini ke kerumunan massa Toronto. Gundala menawarkan seni bela diri dan full action yang seru.

Baca Juga:  Dwayne Johnson Keluhkan Rekan Mainnya di Fast 8

Knives Out (2019)

Salah satu kejutan TIFF adalah bagaimana film bergenre murder-mystery besutan Rian Johnson ini begitu disukai secara universal. Knives Out dibintangi Chris Evans untuk perannya sebagai karakter tercela setelah sebelumnya aktor ini menanggalkan kostum Captai America-nya beberapa waktu lalu. Film ini dimulai dengan kisah misteri sederhana menyangkut pembunuhan seorang penulis novel yang berkembang menjadi semacam komedi membingungkan yang membuat kepala Anda terus berpikir mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.

The Vigil (2019)

Film bergenre ‘kerasukan setan’ atau eksorsisme di Hollywood kerapkali dikait-kaitkan dengan alkitab dan pendeta. Namun di debut Keith Thomas ini, sang sineas mengambil latar dari mitologi Yahudi. Dave Davis memerankan Jakov, seorang pria muda yang meninggalkan komunitas orthodoxnya untuk merangkul kehidupan sekuler dengan bekerja sebagai seorang shomer, mengawasi tubuh anggota komunitas yang baru saja meninggal dan dihantui oleh ‘evil presence’. Film ini mentransformasikan kultur Orthodox ke material gore, dengan Yakov yang hanya berpegang ke doa untuk keluar dari situasi neraka ini.

The Vast of Night (2019)

Nostalgia sci-fi klasik 50-an tidak hanya menjamah acara televisi seperti The Twilight Zone dan The Outer Limits, tetapi juga saat ketika kita masih terpesona dengan gagasan tentang masa depan dan keajaiban yang dapat dibawanya. Debut Andrew Patterson, The Vast of Night mengisahkan dua orang pemuda pencari sumber suara misterius yang menyerang stasiun radio lokal mereka di sebuah kota di New Mexico.

Synchronic (2019)

Duet sineas film Justin Benson dan Aaron Moorhead telah membangun karir mereka dengan memadukan banyak genre berbeda untuk sesuatu yang sama sekali baru. Kali ini mereka menggaet Anthony Mackie dan Jamie Dornan untuk memerankan dua orang sahabat dalam sebuah time-bending crime thriller yang melibatkan dua orang paramedis yang mengalami pengalaman realiti baru karena obat-obatan sintesis misterius. Synchronic adalah karya duo sineas ini yang paling dramatis dan emosional, tetapi masih memberikan pengalaman yang menyenangkan.

Baca Juga:  GLOSALIA: Terror Industrial Rock asal Cicadas Dibalik Anthem "HAIL GUNDALA"

La Llorona (2019)

Jika di Indonesia kita mengenal kuntilanak, maka di Amerika latin ada Llorona. Tidak seperti film mitos horor Amerika Latin umumnya, karya Jayro Bustamante, La Llorona, 100% berakar dalam sejarah dan budaya Amerika Latin. Film ini mengisahkan seorang jenderal tua yang dituduh melakukan tindakan genosida di masa lalu dan mulai melihat penampakan menakutkan yang terus menghantui.

The Platform (2019)

Bayangkan sebuah penjara di mana sel-sel ditumpuk secara vertikal, dan satu-satunya makanan yang diberikan kepada tahanan diturunkan dari tingkat tertinggi – memberi makan orang-orang di sel atas tetapi membiarkan orang-orang di bawah kelaparan. Film ini menggabungkan komentar sosial yang tajam dan relevan tentang distribusi kekayaan dengan kengerian kejam ala Snowpiercer -nya Bong Joon-ho.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.